<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	xmlns:georss="http://www.georss.org/georss" xmlns:geo="http://www.w3.org/2003/01/geo/wgs84_pos#" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/"
	>

<channel>
	<title>Riskiyana S. Putra</title>
	<atom:link href="http://ariskiyana.wordpress.com/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://ariskiyana.wordpress.com</link>
	<description>Info dan Opini tentang Kesehatan Masyarakat</description>
	<lastBuildDate>Tue, 25 Jan 2011 23:56:41 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.com/</generator>
<cloud domain='ariskiyana.wordpress.com' port='80' path='/?rsscloud=notify' registerProcedure='' protocol='http-post' />
<image>
		<url>http://s2.wp.com/i/buttonw-com.png</url>
		<title>Riskiyana S. Putra</title>
		<link>http://ariskiyana.wordpress.com</link>
	</image>
	<atom:link rel="search" type="application/opensearchdescription+xml" href="http://ariskiyana.wordpress.com/osd.xml" title="Riskiyana S. Putra" />
	<atom:link rel='hub' href='http://ariskiyana.wordpress.com/?pushpress=hub'/>
		<item>
		<title>Malu Aku Jadi Dokter Indonesia</title>
		<link>http://ariskiyana.wordpress.com/2009/04/25/119/</link>
		<comments>http://ariskiyana.wordpress.com/2009/04/25/119/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 25 Apr 2009 16:33:34 +0000</pubDate>
		<dc:creator>ariskiyana</dc:creator>
				<category><![CDATA[Dari Media]]></category>
		<category><![CDATA[citra dokter]]></category>
		<category><![CDATA[kekuasaan dokter]]></category>
		<category><![CDATA[kritik layanan dokter]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ariskiyana.wordpress.com/?p=119</guid>
		<description><![CDATA[Sabtu, 25 April 2009 &#124; 03:26 WIB Lewat tulisan rumah (yang) sakit (Kompas, 14/3/09) Radhar Panca Dahana mengeluh buruknya layanan medik kita. Tulisan itu mewakili nasib banyak pasien. Yang diungkapnya fakta keresahan tak sedikit pasien kita. Betul harus diakui banyak pasien kita terpojok sebagai pihak yang dirugikan. Handrawan Nadesul Resep dokter ditulis tak rasional, lebih [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=ariskiyana.wordpress.com&amp;blog=6128314&amp;post=119&amp;subd=ariskiyana&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:.0001pt;line-height:12pt;"><span style="font-size:8.5pt;font-family:&quot;color:#333333;">Sabtu, 25 April 2009 | 03:26 WIB</span><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;color:#333333;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:15pt;"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;color:#333333;">Lewat tulisan rumah (yang) sakit (Kompas, 14/3/09) Radhar Panca Dahana mengeluh buruknya layanan medik kita. Tulisan itu mewakili nasib banyak pasien. Yang diungkapnya fakta keresahan tak sedikit pasien kita. Betul harus diakui banyak pasien kita terpojok sebagai pihak yang dirugikan. Handrawan Nadesul</span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:15pt;"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;color:#333333;">Resep dokter ditulis tak rasional, lebih banyak pasien berobat kalau punya uang saja, komersialisasi layanan medik, layanan medik dirasakan tak manusiawi. Itulah potret layanan medik yang dibaca dengan kacamata bukan orang medik. Saya ingin mengulasnya dari kacamata pekerja medik.<span id="more-119"></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:15pt;"><strong><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;color:#333333;">Membangun di hulu</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:15pt;"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;color:#333333;">Untuk menguak mengapa layanan medik kita meresahkan masyarakat, tugas dan kewajiban pekerja medik kita perlu dikenali masyarakat.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:15pt;"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;color:#333333;">Lebih banyak rakyat Indonesia baru berobat kalau punya uang. Dua pertiga dari mereka tidak sekolah tinggi dan lemah kemampuan hidup sehatnya. Karena itu, arah pembangunan kesehatan kita jelas garisnya pencegahan.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:15pt;"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;color:#333333;">Dengan konsep pencegahan (primary health care) kesehatan di hulu kita bangun. Pilihan itu dinilai lebih efisien. Lihat saja Banglades. Bukan sebab anggaran kesehatan dinaikkan maka Banglades lebih sehat dari kita, melainkan karena Banglades teguh melakukan layanan pencegahan.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:15pt;"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;color:#333333;">Membangun di hulu ongkosnya jauh lebih murah. Karena jika hulu tidak dibangun, di hilir jumlah orang sakit terus meningkat. Karena angka penyakit meningkat, anggaran habis buat belanja obat. Belanja obat lebih mahal ketimbang ongkos bikin rakyat tidak sakit sejak di hulu.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:15pt;"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;color:#333333;">Puskesmas menjadi tulang punggung pembangunan kesehatan di hulu. Namun, puskesmas bukan rumah sakit sehingga hanya mampu melayani satu dari lebih 12 program. Di sana, masyarakat kita yang masih belum melek sehat dilatih menjadi pintar agar tidak sakit. Namun tidak semua puskesmas mampu melakukan pembangunan di hulu. Akibatnya, rumah sakit masih seperti pasar malam. Yang dilayani melebihi kapasitas yang melayani. Maka, layanan medik cenderung tak profesional.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:15pt;"><strong><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;color:#333333;">Konsekuensi sistem</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:15pt;"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;color:#333333;">Dari dulu sukar mengatur distribusi tenaga dokter. Semua dokter muda kepingin praktik di kota besar supaya lekas maju. Kalaupun mau di puskesmas, apalagi di daerah terpencil, mereka minta imbalan gaji atau janji spesialisasi. Hal itu normal, bukan saja sekolah dokter memakan waktu lama dan ongkosnya tidak kecil, tetapi juga pencitraan: bukan dokter kalau tak punya rumah dan mobil pribadi.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:15pt;"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;color:#333333;">Citra kumuh dokter mengurangi kepercayaan pasien. Profesi dokter butuh faktor trust. Di mata pasien, lulus cum laude saja tak cukup, kalau dokter pergi praktik naik ojek.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:15pt;"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;color:#333333;">Berbeda dengan dokter di negara dengan sistem layanan medik, citra profesi cukup dibangun dengan berpraktik di satu rumah sakit. Perhatian dan konsentrasi kerja dokter tak perlu pecah terbagi mencari tambahan di tempat lain.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:15pt;"><strong><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;color:#333333;">Lebih berat</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:15pt;"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;color:#333333;">Bobot kerja profesi dokter kita jauh lebih berat daripada dokter negara maju. Pasien puskesmas bisa ratusan. Bagaimana bisa teliti memeriksa. Akibatnya, kesehatan gagal dibangun di hulu sehingga orang sakit terus meningkat.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:15pt;"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;color:#333333;">Tugas dokter puskesmas bukan hanya memeriksa pasien. Dua pertiga jam kerjanya harus di lapangan untuk menyuluh, rapat dengan pamong, dan meninjau masyarakat.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:15pt;"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;color:#333333;">Bobot kerja dokter rumah sakit juga melebihi ketika bekerja profesional. Tak heran kalau ada profesor kita yang salah membaca hasil rontgen. Tentu bukan karena kebodohan. Kasus malapraktik acap terjadi akibat bobot kerja dan kondisi profesi seperti dipikul rata-rata dokter kita.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:15pt;"><strong><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;color:#333333;">Kekuasaan dokter</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:15pt;"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;color:#333333;">Harus diakui kekuasaan profesi dokter kelewat tinggi. Apa pun yang diminta dokter pasien hanya bisa patuh saja. Ketidaktahuan medik pasien membuat pasien tak berdaya di hadapan dokter. Moral dokter bisa tergoda mencari untung dari ketidaktahuan pasien.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:15pt;"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;color:#333333;">Sekolah dokter mengajarkan agar menulis resep rasional. Kalau ada obat lebih murah dengan efek sama mengapa menulis yang lebih mahal. Kalau tak perlu dirawat atau wajib operasi, mengapa memilih memberatkan pasien. Sumpah dokter melarang memperlakukan pasien seperti nomor. Dokter wajib menjawab pertanyaan pasien, menjelaskan sebelumnya mengenai operasi yang akan dilakukan.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:15pt;"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;color:#333333;">Industri medik juga meningkatkan overutilisasi alat pemeriksaan (karena memeriksa apa saja yang sebetulnya tidak diperlukan) menjadikan rakyat yang sungguh memerlukan akhirnya tak mendapatkannya sehingga mereka merasa diperlakukan diskriminatif. Di beberapa negara ada regulasi pembatasan jumlah pasien sehari. Kita tidak.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:15pt;"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;color:#333333;">Sekarang terjawab mengapa kalau lebih sering muncul kasus malapraktik, kalau pasien lebih sering bertemu dokter yang tak ramah (misconduct). Sebagian muncul sebagai konsekuensi sistem kesehatan yang kita pilih, tingginya otonomi dokter, dan moral profesi yang goyah. Ditambah dengan struktur penggajian tenaga dokter dan kebijakan praktik dokter membuat masyarakat masih berpikir untuk berobat ke Ponari. Ketika rakyat masih memerlukan layanan kesehatan primer, industri medik malah terus menekan.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:15pt;"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;color:#333333;">Sebagai dokter, tak patut bila karena potret buruk, cermin dibelah. Namun, karena profesi dokter masih dipagari oleh etika profesi, posisi saya serba salah. Otokritiknya, perlu solusi membangun â€praktik bersamaâ€ agar berlangsung proses tilik-sejawat (peer review) sehingga kekuasaan dokter tidak tanpa batas.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:15pt;"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;color:#333333;">Untuk itu sistem kesehatan saatnya menggratiskan setiap warga negara. Kita mampu melakukannya. Pendidikan etika medik menjadi modul tersendiri bagi setiap calon dokter sehingga pembangunan kesehatan di hulu dapat berhasil.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:15pt;"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;color:#333333;">Bila rakyat makin pintar sehat, makin kritis, dan skeptik, makin berkuranglah kekuasaan dokter. Dokter tak berani berpraktik seenaknya lagi. Kekuasaan dokter perlu dibagi untuk hak pasien. Hukum kedokteran saatnya ditegakkan. Walau tidak setiap kasus yang merugikan pasien adalah salah pihak medik, dan masih banyak dokter yang baik, tetapi jika perubahan di atas tak terjadi, malu aku jadi dokter Indonesia.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:15pt;"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;color:#333333;">HANDRAWAN NADESUL </span><em><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;color:#333333;">Dokter, Pengasuh Rubrik Kesehatan, Penulis Buku</span></em></p>
<div style="border:medium medium 1pt none none solid 0 0 windowtext;padding:0 0 1pt;">
<p class="MsoNormal" style="border:medium none;margin-bottom:.0001pt;text-align:center;line-height:normal;padding:0;" align="center"><span style="font-size:8pt;font-family:&quot;display:none;">Top of Form</span></p>
<p>sumber: Kompas, sabtu, 25 april 2009 <a href="http://cetak.kompas.com/read/xml/2009/04/25/0326331/malu.aku.jadi.dokter.indonesia" target="_blank">click disini</a><strong><a href="http://cetak.kompas.com/read/xml/2009/04/25/0326331/malu.aku.jadi.dokter.indonesia" target="_blank"><strong></strong></a></strong></div>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/ariskiyana.wordpress.com/119/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/ariskiyana.wordpress.com/119/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/ariskiyana.wordpress.com/119/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/ariskiyana.wordpress.com/119/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/ariskiyana.wordpress.com/119/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/ariskiyana.wordpress.com/119/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/ariskiyana.wordpress.com/119/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/ariskiyana.wordpress.com/119/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/ariskiyana.wordpress.com/119/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/ariskiyana.wordpress.com/119/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/ariskiyana.wordpress.com/119/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/ariskiyana.wordpress.com/119/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/ariskiyana.wordpress.com/119/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/ariskiyana.wordpress.com/119/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=ariskiyana.wordpress.com&amp;blog=6128314&amp;post=119&amp;subd=ariskiyana&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ariskiyana.wordpress.com/2009/04/25/119/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/4c39513a9e3e1407b8116b4a3749478e?s=96&#38;d=identicon" medium="image">
			<media:title type="html">ariskiyana</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Kontroversi Puyer dan Polifarmasi</title>
		<link>http://ariskiyana.wordpress.com/2009/03/06/kontroversi-puyer-dan-polifarmasi/</link>
		<comments>http://ariskiyana.wordpress.com/2009/03/06/kontroversi-puyer-dan-polifarmasi/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 06 Mar 2009 16:37:43 +0000</pubDate>
		<dc:creator>ariskiyana</dc:creator>
				<category><![CDATA[Dari Media]]></category>
		<category><![CDATA[kontroversi puyer]]></category>
		<category><![CDATA[p]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ariskiyana.wordpress.com/?p=109</guid>
		<description><![CDATA[LAPORAN IPTEK Rabu, 4 Maret 2009 &#124; 05:39 WIB Oleh IRWAN JULIANTO Obat telah lama menjadi bahan perdebatan yang tak berkesudahan. Konsumen boleh saja adalah &#8220;raja&#8221; dalam menentukan pilihan untuk hampir semua jenis barang dan jasa yang akan dibelinya, kecuali untuk soal obat: ia harus memasrahkan pilihan dan nasibnya pada ujung pena dokter. Sejarah telah [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=ariskiyana.wordpress.com&amp;blog=6128314&amp;post=109&amp;subd=ariskiyana&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://ariskiyana.files.wordpress.com/2009/03/puyer.jpeg"><img class="alignright size-full wp-image-112" title="puyer" src="http://ariskiyana.files.wordpress.com/2009/03/puyer.jpeg?w=510" alt="puyer"   /></a>LAPORAN IPTEK<br />
Rabu, 4 Maret 2009 | 05:39 WIB</p>
<p>Oleh IRWAN JULIANTO</p>
<p>Obat telah lama menjadi bahan perdebatan yang tak berkesudahan. Konsumen boleh saja adalah &#8220;raja&#8221; dalam menentukan pilihan untuk hampir semua jenis barang dan jasa yang akan dibelinya, kecuali untuk soal obat: ia harus memasrahkan pilihan dan nasibnya pada ujung pena dokter.</p>
<p>Sejarah telah menunjukkan, otoritas meresepkan obat yang diberikan kepada profesi kedokteran terbukti kerap disalahgunakan. Ini menimbulkan pengobatan yang irasional dan merugikan konsumen. Ivan Illich adalah salah satu kritikus terkemuka yang berani mengungkap fakta buruk dunia medis di negara maju maupun miskin yang justru mengubah &#8220;kesehatan&#8221; menjadi &#8220;kesakitan&#8221;.<br />
<span id="more-109"></span><br />
Awal dekade 1980-an jejak Illich diikuti para kritikus lain, seperti Dianna Melrose (menulis buku Bitter Pills-Medicines and the Third World Poor, 1982), Milton Silverman (Prescription for Death-The Drugging of the Third World, 1982), Charles Medawar (The Wrong Kind of Medicines, 1984), hingga John Braithwaite (Corporate Crime in the Pharmaceutical Industry, 1984). Mereka umumnya membongkar praktik-praktik penyuapan terhadap para dokter yang dilakukan oleh industri farmasi lokal hingga yang multinasional.</p>
<p>Sayangnya, para aktivis prokonsumen ini dan gerakan konsumen sedunia gagal menekan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) untuk mengatur peresepan obat yang rasional. Alih-alih mengulang keberhasilan gerakan konsumen internasional menekan WHO dan Unicef mengatur pemasaran susu formula hingga tahun 1981 kedua badan PBB ini menerbitkan Kode Pemasaran Pengganti ASI, Dirjen WHO Halfdan Mahler asal Skandinavia yang sosialis tahun 1986 malah diganti oleh Dr Hiroshi Nakajima asal Jepang yang pernah bekerja di sebuah industri farmasi internasional.</p>
<p>Sejak itu gerakan konsumen untuk peresepan obat yang rasional kehilangan gereget. Apalagi dekade 1980-1990-an masyarakat dunia dipusingkan oleh pandemi AIDS. Kontrak-mengontrak industri farmasi dan dokter pun berjalan seperti biasa, bahkan kian parah. Obat-obat pun makin banyak diresepkan secara berlebihan (polifarmasi) dan tak rasional. Perusahaan farmasi swasta nasional lebih leluasa mengontrak para dokter karena margin keuntungan yang besar dari pembuatan &#8220;obat-obat jiplakan&#8221; atau me-too drugs (Kompas, 22/11/2000).</p>
<p>&#8220;Caveat venditor&#8221;</p>
<p>Di tengah-tengah suasana ketidakberdayaan konsumen dan kokohnya hegemoni kuasa pena dokter ini, tiba-tiba stasiun televisi RCTI bulan Februari lalu meluncurkan rangkaian liputan &#8220;Polemik Puyer&#8221; yang menghebohkan. Yang digugat dalam liputan eksklusif itu adalah praktik peresepan dan pembuatan puyer yang sudah menjadi tradisi berpuluh tahun di Indonesia. Sayangnya, liputan yang begitu spektakuler sempat direduksi menjadi kontroversi higienis tidaknya pembuatan puyer. Padahal, soal yang lebih substansial adalah masalah keamanan puyer (terutama bagi bayi dan anak-anak), rasional tidaknya dalam peresepannya karena mayoritas puyer adalah campuran banyak jenis obat (polifarmasi) .</p>
<p>Adalah dokter spesialis anak, dr Purnamawati S Pujiarto, SpAK yang pertama kali mengungkapkan betapa praktik peresepan polifarmasi banyak diberikan untuk pasien anak-anak dengan sakit yang umum, seperti diare, panas, batuk-pilek, dan masalah infeksi saluran pernapasan. Kebetulan polifarmasi itu diberikan dalam bentuk puyer. &#8220;Ada anak usia belasan bulan dengan demam karena flu diberi resep campuran sampai 12 jenis obat, termasuk antibiotik dan obat penenang,&#8221; tuturnya.</p>
<p>Padahal, menurut Purnamawati, 95 persen anak dengan sakit yang umum cukup diberi satu-dua macam obat saja. Polifarmasi bukan saja merupakan pemborosan biaya kesehatan, juga dapat menimbulkan efek samping yang dapat berbahaya bagi bayi atau anak-anak kecil.</p>
<p>Kini dengan semakin terdidiknya para orangtua muda, seyogianya para dokter dan apoteker lebih berhati-hati dalam meresepkan dan menyiapkan obat bagi bayi dan anak-anak.</p>
<p>Ketika Kompas mengunjungi Markas Sehat yang dikelola Yayasan Orangtua Peduli di Jatipadang, Jakarta Selatan, Minggu (1/3) petang, terlihat betapa para orangtua muda kini makin kritis terhadap rasional tidaknya peresepan yang dilakukan para dokter. Dalam masa serba internet seperti saat ini, seruan &#8220;konsumen berhati-hatilah&#8221; (caveat emptor) sudah harus berganti menjadi &#8220;produsen atau penyedia jasa berhati-hatilah&#8221; (caveat venditor).</p>
<p>Ahli farmakologi klinik FKUI, Prof Dr Rianto Setiabudy, ketika dihubungi semalam menyatakan, puyer dan polifarmasi adalah dua hal yang secara substansial berbeda. &#8220;Hanya memang selama masih ada kebiasaan memberikan obat berupa puyer, maka itu menjadi persembunyian yang aman bagi polifarmasi yang tidak rasional. Puyer hendaknya tidak dijadikan sebagai cara pemberian obat yang rutin,&#8221; katanya.</p>
<p>Prof Rianto menyarankan kebiasaan meresepkan puyer polifarmasi harus dihilangkan perlahan-lahan. &#8220;Kalau dikatakan tidak ada yang salah dengan puyer, maka 5-10 tahun ke depan budaya puyer akan tetap ada di Indonesia. Padahal, negara-negara yang lebih miskin daripada Indonesia sekarang sudah tidak memakai puyer,&#8221; ujarnya.</p>
<p>Betul bahwa dokter tetap mempunyai otoritas meresepkan obat, tetapi kebiasaan peresepan (prescribing habit) yang tak rasional dalam bentuk polifarmasi harus ditinggalkan. Apalagi jika itu dilakukan secara sengaja karena mengejar imbalan dari industri farmasi. Menurut Prof Rianto, kalau itu karena kurangnya pengetahuan dokter tentang obat-obatan, kompetensi dokter masih bisa dikembangkan oleh organisasi profesi kedokteran.</p>
<p>Kini memang adalah era ilmu kedokteran dan farmasi rasional yang berbasis bukti, bukan &#8220;seni&#8221; meracik obat lagi.</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/ariskiyana.wordpress.com/109/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/ariskiyana.wordpress.com/109/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/ariskiyana.wordpress.com/109/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/ariskiyana.wordpress.com/109/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/ariskiyana.wordpress.com/109/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/ariskiyana.wordpress.com/109/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/ariskiyana.wordpress.com/109/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/ariskiyana.wordpress.com/109/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/ariskiyana.wordpress.com/109/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/ariskiyana.wordpress.com/109/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/ariskiyana.wordpress.com/109/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/ariskiyana.wordpress.com/109/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/ariskiyana.wordpress.com/109/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/ariskiyana.wordpress.com/109/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=ariskiyana.wordpress.com&amp;blog=6128314&amp;post=109&amp;subd=ariskiyana&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ariskiyana.wordpress.com/2009/03/06/kontroversi-puyer-dan-polifarmasi/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/4c39513a9e3e1407b8116b4a3749478e?s=96&#38;d=identicon" medium="image">
			<media:title type="html">ariskiyana</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://ariskiyana.files.wordpress.com/2009/03/puyer.jpeg" medium="image">
			<media:title type="html">puyer</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>District Team Problem Solving Evaluation: Save Cost Not Service</title>
		<link>http://ariskiyana.wordpress.com/2009/02/28/district-team-problem-solving-evaluation-save-cost-not-service/</link>
		<comments>http://ariskiyana.wordpress.com/2009/02/28/district-team-problem-solving-evaluation-save-cost-not-service/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 28 Feb 2009 16:09:57 +0000</pubDate>
		<dc:creator>ariskiyana</dc:creator>
				<category><![CDATA[Opini]]></category>
		<category><![CDATA[DTPS]]></category>
		<category><![CDATA[DTPS Evaluation]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ariskiyana.wordpress.com/?p=100</guid>
		<description><![CDATA[Team self-evaluation From the very outset of the DTPS process, each district team should knows that it will be a second workshop in 10-12 months to report and discuss what it has been able to accomplish. This will also enable the team to assess how its performance as a district team has been affected by [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=ariskiyana.wordpress.com&amp;blog=6128314&amp;post=100&amp;subd=ariskiyana&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align:justify;">Team self-evaluation<br />
From the very outset of the DTPS process, each district team should knows that it will be a second workshop in 10-12 months to report and discuss what it has been able to accomplish.<br />
This will also enable the team to assess how its performance as a district team has been affected by the whole DTPS process and to judge and modify the solution approach it has designed.Each team thus has the responsibility for preparing in advance its own evaluation report.<span id="more-100"></span><br />
The teams evaluate and report on at least the following evaluation components:<br />
- solution implementation: actual activities carried out as compared with the planned activities<br />
- service achievement: service output and coverage achieved as compared with the targets<br />
- difficulty reduction: actual difficulty reduction as compared with the targets<br />
- solution effectiveness: improvement in the health problem indicators as compared with the objectives<br />
- team performance: how well the team worked together and generated cooperation from other staff, agencies and communities.<br />
The teams need to be informed, several months before, of the dates for the evaluation workshop.<br />
The teams should also be reminded to forward their short evaluation report in time for reproduction and distribution at the workshop, and offered any technical assistance they may need. However, neither facilitators nor support staff should actively participate in the team&#8217;s evaluation or the preparation of its evaluation report.<br />
Depending on the availability of secretarial services at the district level, the MOH may have to type the team&#8217;s evaluation report centrally.<br />
Teams get much less assistance in producing their evaluation reports than they received in producing their solution proposal documents. The entire planning workshop assists each team in producing and then presenting its solution project proposal. However, each team must have written and forwarded its evaluation report before the opening of the evaluation workshop.<br />
The observed high motivation and morale of the district teams during implementation is probably due in large part to the fact that each team becomes a self -supporting group carrying out its own ideas and solution. However, this pre-scheduled opportunity for follow-up, to recount at the evaluation workshop what the team was able to accomplish, may well be another source of motivation that stimulates teams to persevere in trying to achieve some progress by the end of the year.<br />
The team does not produce another document during the evaluation workshop. It does prepare and present transparencies in most of the sessions in order to present its own assessments and answers to the basic evaluation questions.</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/ariskiyana.wordpress.com/100/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/ariskiyana.wordpress.com/100/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/ariskiyana.wordpress.com/100/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/ariskiyana.wordpress.com/100/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/ariskiyana.wordpress.com/100/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/ariskiyana.wordpress.com/100/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/ariskiyana.wordpress.com/100/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/ariskiyana.wordpress.com/100/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/ariskiyana.wordpress.com/100/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/ariskiyana.wordpress.com/100/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/ariskiyana.wordpress.com/100/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/ariskiyana.wordpress.com/100/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/ariskiyana.wordpress.com/100/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/ariskiyana.wordpress.com/100/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=ariskiyana.wordpress.com&amp;blog=6128314&amp;post=100&amp;subd=ariskiyana&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ariskiyana.wordpress.com/2009/02/28/district-team-problem-solving-evaluation-save-cost-not-service/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/4c39513a9e3e1407b8116b4a3749478e?s=96&#38;d=identicon" medium="image">
			<media:title type="html">ariskiyana</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Keluarga Berencana Mati Lampu</title>
		<link>http://ariskiyana.wordpress.com/2009/01/20/keluarga-berencana-mati-lampu/</link>
		<comments>http://ariskiyana.wordpress.com/2009/01/20/keluarga-berencana-mati-lampu/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 20 Jan 2009 07:56:47 +0000</pubDate>
		<dc:creator>ariskiyana</dc:creator>
				<category><![CDATA[Opini]]></category>
		<category><![CDATA[Kegagalan KB]]></category>
		<category><![CDATA[Keluarga Berencana]]></category>
		<category><![CDATA[Kematian Ibu]]></category>
		<category><![CDATA[TFR]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ariskiyana.wordpress.com/?p=74</guid>
		<description><![CDATA[“ Hujan …? Mati lampu? Ah sudah biasa, yang luar biasa itu justru kalau hujan lampu tidak mati…” apa yang mungkin bisa kita lakukan kalau lampu mati? Panik? Gelap, tak bisa bekerja/belajar, AC, kulkas, dispenser, komputer, pemasak nasi, pompa air semuanya ikut mati tak berfungsi ? Satu sistem vital tak berfungsi ternyata dapat mengakibatkan kelumpuhan [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=ariskiyana.wordpress.com&amp;blog=6128314&amp;post=74&amp;subd=ariskiyana&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align:justify;">“ Hujan …? Mati lampu? Ah sudah biasa, yang luar biasa itu justru kalau hujan lampu tidak mati…”  apa yang mungkin bisa kita lakukan kalau lampu mati? Panik? Gelap, tak bisa bekerja/belajar, AC, kulkas, dispenser, komputer,  pemasak nasi,  pompa air semuanya ikut mati tak berfungsi ? Satu sistem vital tak berfungsi ternyata dapat mengakibatkan kelumpuhan sistem kerja yang lain.</p>
<p style="text-align:justify;">Keluarga Berencana selama ini dipersepsikan secara sempit hanya sebagai upaya mencegah kehamilan, atau sekedar pemasangan alat kontrasepsi (alkon) saja; tapi sebenarnya juga merupakan salah satu  pengendali laju pertambahan penduduk (LPP), upaya peningkatan kesejahteraan dan ketahanan keluarga, kesehatan reproduksi, kesehatan maternal, kesehatan anak bahkan sampai kepada kesehatan usia lanjut. Semua tujuan itu akan bermuara pada tujuan yang lebih besar: mewujudkan keluarga-keluarga Indonesia yang berstruktur kecil, berkualitas dan sejahtera.</p>
<p style="text-align:justify;"><span id="more-74"></span>Keluarga Berencana juga merupakan pengaman untuk program pembangunan yang lain. Bisakah kita membayangkan seandainya di negri tercinta ini Keluarga Berencana gagal?  Laju pertambahan penduduk bisa tak terkendali, baby boom bakal kembali terjadi, dan akan menjadi beban berat pembangunan. Pengangguran, banyak anak tak sekolah, aborsi, tingginya angka kematian ibu melahirkan, anak-anak yang kurang gizi, serta kelangkaan kontrasepsi, adalah derita lain yang akan terlihat.  Pendidikan dan pelayanan kesehatan akan sulit dipenuhi kebutuhannya, lapangan pekerjaan semakin menyempit, kemiskinan selalu mengancam, kriminalitas cenderung meningkat dan masih banyak lagi akibat berantai lainnya.</p>
<p style="text-align:justify;">Laju Pertambahan Penduduk Indonesia berkisar antara 1,2 &#8211;  1,4 persen pertahun-artinya setiap tahun penduduk Indonesia bertambah 3 – 3.5 juta jiwa, dan ini hampir sama dengan jumlah penduduk Singapura. Angka Kesuburan Wanita (<em>TFR &#8211; Total Fertility Rat</em>e) di Jawa Tengah mengalami kenaikan dari 2,1 di tahun 2003 menjadi 2,3 di tahun 2007 (nasional 2,6) artinya setiap perempuan usia subur di Jawa Tengah rata-rata memiliki 2,3 anak.  Seharusnya TFR dapat ditekan menjadi 2 atau kurang, sebab dengan memiliki 1-2 anak pada setiap keluarga, maka akan terjadi pertumbuhan penduduk yang seimbang dan terkendali, sehingga dapat menghemat triliunan rupiah anggaran negara, untuk pendidikan, kesehatan, bahan pangan dan lapangan pekerjaan.  Angka kematian ibu di Indonesia, masih menempati urutan yang tertinggi dibandingkan dengan negara-negara ASEAN lainnya. Dilihat dari angka Indeks Pembangunan Manusiapun (IPM), Indonesia juga masih sangat rendah yaitu menduduki rangking 110 dari 117 negara.</p>
<p style="text-align:justify;">Indonesia pernah menjadi contoh masyarakat dunia khususnya negara berkembang, tentang keberhasilan program Keluarga Berencana, ternyata hal tersebut dapat memicu keberhasilan lain seperti swasembada beras, kecukupan sembako, mempermudah penyediaan layanan publik dll. Bagaimana perkembangan KB di daerah saat ini ? yuk&#8230;kita lihat hasil pengamatan di lapangan:</p>
<ol style="text-align:justify;">
<li>Anggaran KB dari APBD II di alokasikan menurun dari tahun ke tahun, anggaran tersebut menjadi satu dengan alokasi untuk dinas dimana KB tergabung, sehingga dirasakan kurang dapat mendukung program KB .</li>
<li>Jumlah PLKB menurun drastis, dan mengerjakan pekerjaan beragam, terkait dengan tupoksi dinas dimana KB tergabung sehingga tidak terkonsentrasi untuk program KB. Rasio  seorang PLKB dibanding desa binaan 1 : 4, hal ini membuat beban kerja semakin berat sehingga pantauan terhadap sasaran KB kurang optimal. Pembuatan laporan dan pencatatan oleh tenaga medis (bidan) juga masih belum tepat waktu, oleh karena para bidan sudah sarat beban.</li>
<li>Persoalan utama dalam penggerakan sasaran adalah rapuhnya penggerakan oleh PPKBD dan sub PPKBD, bila dapat diupayakan insentif disertai pembiayaan untuk kelompok kegiatan bina ketahanan keluarga dan UPPKS, maka diharapkan dapat mendorong PPKBD dan sub PPKBD dalam penggerakan sasaran untuk menekan DO dan unmetneed, mengaktifkan IMP,BKB,BKR,BKL dll.</li>
<li>Koordinasi antar instansi dirasakan perlu ditingkatkan, sehingga diperlukan faktor pendorong yang kuat seperti instruksi gubernur, selain itu berbagai lomba yang ada (mis;TMKK,KB-Kes PKK) diharapkan dapat mendukung dengan memberikan bobot yang tinggi untuk kerja sama lintas sektor.</li>
<li>Daerah memiliki perusahaan baik milik pemerintah maupun swasta, namun secara kualitatif belum dapat menyediakan pelayanan KB yang memadai, untuk itu perlu dipertimbangkan instruksi dari pejabat Disperindagprov agar tiap perusahaan dengan kualifikasi tertentu harus menyediakan sarana pelayanan kesehatan dan KB yang representatif.</li>
<li>Kelompok Prio Utomo belum berkembang seperti yang diharapkan, perlu stimulasi modal, demikian juga untuk BLK, PIK, BKL, BKR, BKB, buku pedoman kegiatan perlu didistribusikan ke semua sasaran.</li>
<li> Pelayanan KB perlu disertai pelayanan advokasi prapelayanan dan pengayoman.</li>
</ol>
<p style="text-align:justify;">Dana yang tersedia untuk program KB saat ini memang semakin menurun, kecukupan pemenuhan untuk pembiayaan kegiatan yang ideal dengan sendirinya akan berkurang, sehingga prioritas program harus dipertajam. Pada sisi yang lain, kebutuhan masyarakat akan layanan KB tidak berkurang bahkan meningkat, pertumbuhan ekonomi yang melambat akibat imbas resesi dunia, angka inflasi yang meninggi mengakibatkan gelombang ’tsunami’ penurunan kemampuan ekonomi keluarga, yang dapat melanda siapa saja.  Ancaman PHK, kenaikan harga kebutuhan pokok, mendorong terjadinya peningkatan jumlah keluarga miskin atau hampir miskin.</p>
<p style="text-align:justify;">Indonesia sebagai negara besar, sudah selayaknya memiliki rakyat yang tangguh, berbudaya gotong royong, pengelola negara yang terpercaya dan mumpuni, tidak boleh mudah dirusak hanya oleh segelintir orang.  Bangsa Indonesia bukan bangsa yang penakut menghadapi  masalah, persoalan yang ada dihadapi sebagai tantangan yang harus di tundukkan, bukankah Tuhan yang maha pengasih dan penyayang, tidak akan membebani umatnya  dengan beban yang berat yang tidak dapat dipikul umatnya?   Manusia sebenarnya tercipta bernurani malaikat, yang memiliki satu sayap&#8230; untuk dapat terbang&#8230;.dia perlu malaikat lain.</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/ariskiyana.wordpress.com/74/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/ariskiyana.wordpress.com/74/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/ariskiyana.wordpress.com/74/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/ariskiyana.wordpress.com/74/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/ariskiyana.wordpress.com/74/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/ariskiyana.wordpress.com/74/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/ariskiyana.wordpress.com/74/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/ariskiyana.wordpress.com/74/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/ariskiyana.wordpress.com/74/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/ariskiyana.wordpress.com/74/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/ariskiyana.wordpress.com/74/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/ariskiyana.wordpress.com/74/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/ariskiyana.wordpress.com/74/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/ariskiyana.wordpress.com/74/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=ariskiyana.wordpress.com&amp;blog=6128314&amp;post=74&amp;subd=ariskiyana&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ariskiyana.wordpress.com/2009/01/20/keluarga-berencana-mati-lampu/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>5</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/4c39513a9e3e1407b8116b4a3749478e?s=96&#38;d=identicon" medium="image">
			<media:title type="html">ariskiyana</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Pasar Desa untuk mBuat Sehat Masyarakat nDesa</title>
		<link>http://ariskiyana.wordpress.com/2009/01/11/pasar-desa-untuk-mbuat-sehat-masyarakat-ndesa/</link>
		<comments>http://ariskiyana.wordpress.com/2009/01/11/pasar-desa-untuk-mbuat-sehat-masyarakat-ndesa/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 11 Jan 2009 05:53:45 +0000</pubDate>
		<dc:creator>ariskiyana</dc:creator>
				<category><![CDATA[Opini]]></category>
		<category><![CDATA[Bali Desa mBangun Desa]]></category>
		<category><![CDATA[Desa Siaga]]></category>
		<category><![CDATA[Forum Kesehatan Desa]]></category>
		<category><![CDATA[Human Development Index (HDI)]]></category>
		<category><![CDATA[Pasar Desa]]></category>
		<category><![CDATA[Pemberdayaan Masyarakat]]></category>
		<category><![CDATA[Tumpang Sari]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ariskiyana.wordpress.com/?p=6</guid>
		<description><![CDATA[Belakangan ini&#8230; ternyata istilah ndesa (ndeso) bukannya untuk menampakkan ’keterbelakangan’ seperti anggapan sebagian orang selama ini, namun justru dipakai label untuk menunjukkan ’keterdepanan’, mau bukti..? Coba kita lihat seputar kota Semarang. Sudah berapa banyak restoran memakai nama &#8230;nDesa, dari Pawon Desa, Bumbon Desa, sampai Bakul Desa, padahal resto tersebut bergaya modern, jauh dari kesan ndesa, [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=ariskiyana.wordpress.com&amp;blog=6128314&amp;post=6&amp;subd=ariskiyana&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align:justify;"><a href="http://ariskiyana.files.wordpress.com/2009/01/desa.jpg"><img class="alignleft size-medium wp-image-42" title="desa" src="http://ariskiyana.files.wordpress.com/2009/01/desa.jpg?w=240&#038;h=168" alt="desa" width="240" height="168" /></a>Belakangan ini&#8230; ternyata istilah <span style="font-style:italic;">ndesa (ndeso)</span> bukannya untuk menampakkan ’keterbelakangan’ seperti anggapan sebagian orang selama ini, namun justru dipakai label untuk menunjukkan ’keterdepanan’, mau bukti..? Coba kita lihat seputar kota Semarang. Sudah berapa banyak restoran memakai nama &#8230;nDesa, dari <span style="font-style:italic;">Pawon Desa</span>, <span style="font-style:italic;">Bumbon Desa</span>, sampai <span style="font-style:italic;">Bakul Desa</span>, padahal resto tersebut bergaya modern, jauh dari kesan ndesa, bahkan tidak ketinggalan, bapak Gubernur kita yang baru pun menggunakan <em>ndesa</em> &#8212; <em>&#8220;Bali ndesa mbangun desa&#8221; </em>&#8211; sebagai sasaran visinya.</p>
<p style="text-align:justify;">Dalam era <span style="font-style:italic;">nDesa lifestyle</span> seperti itu, semestinya membuat kita menjadi tersadar, sudahkah kita melaksanakan kewajiban kita membayar hak paten ’nDesa’ kepada sang pemilik, yaitu masyarakat nDesa? pembayaran itu bisa berwujud perhatian kita dalam pembangunan desa tanpa mengakibatkan ketergantungan. Desa memang tidak selayaknya diberi label ’terbelakang’, justru Desa harus dijadikan titik awal kemajuan, sehingga masyarakat desa merasa nyaman tinggal di desanya sendiri oleh karena semua kebutuhan dasar hidupnya sudah tersedia di desa dengan ’harga’ yang terjangkau namun tetap terjaga kualitasnya.</p>
<p style="text-align:justify;"><span id="more-6"></span><br />
Dengan kenyamanan masyarakat desa tinggal dan bekerja di desa, maka kota akan terkurangi resiko terbebani arus urbanisasi dengan semua kompleksitas permasalahannya. Jadi semakin jelaslah, bahwa desa tidak boleh di ’wolak-walik tahu mentah’ untuk kepentingan sesaat oknum tersesat, namun harus dikelola sebagai aset berharga pembangunan bangsa.</p>
<p style="text-align:justify;"><span style="font-weight:bold;">Membangun Kesehatan dimulai dari desa</span><br />
Dalam trias HDI <span style="font-style:italic;">(Human Development Index)</span> kesehatan merupakan salah satu dari trias pendidikan, kesehatan dan pembangunan kemampuan ekonomi. Kesehatan adalah investasi bagi setiap individu untuk mendukung kualitas sumber daya manusia yang sehat, sehingga pemerintah berkewajiban memfasilitasi upaya masyarakat agar sehat. Dengan kata lain, pembangunan bangsa tidak akan pernah berhasil ketika rakyatnya hidup tetapi dengan menderita sakit. Pantas kiranya jika pada UU No. 23 Tahun 1992 tentang kesehatan pasal 3 menyebutkan bahwa tujuan pembangunan kesehatan adalah untuk meningkatkan kesadaran, kemauan dan kemampuan bagi setiap orang agar terwujud derajat kesehatan yang optimal.</p>
<p style="text-align:justify;">Untuk mewujudkan paradigma sehat tersebut, diharapkan keadaan masyarakat Indonesia pada saat ini sudah faham betul tentang arti sehat yang sesungguhnya agar masyarakat mampu hidup mandiri, sehat, dan dinamis. Namun perkiraan tersebut masih jauh dari realitas, masih terdapat beberapa persoalan tentang kesehatan yang membutuhkan perhatian lebih dari pemerintah, terutama untuk masyarakat di daerah pedesaan. Minimnya pengetahuan tentang kesehatan bagi masyarakat desa, merupakan pemandangan yang sering dianggap biasa, khususnya kesehatan para lansia, anak balita dan ibu hamil, namun pada umumnya persoalan kesehatan yang terdata saat ini adalah permasalahan yang dihadapi masyarakat yang hidup di bawah garis kemiskinan saja.</p>
<p style="text-align:justify;">Terbengkelainya pelayanan kesehatan di desa dapat terjadi akibat beberapa faktor, diantaranya kondisi geografis dusun tempat tinggal yang jauh dari pusat pelayanan kesehatan dan pendidikan yang masih rendah. Persoalan pendidikan maupun kesehatan yang sering terabaikan juga disebabkan oleh karena mayoritas penduduk desa adalah buruh tani, yang kebanyakan mereka selalu disibukkan oleh persoalan mencari nafkah.</p>
<p style="text-align:justify;"><span style="font-weight:bold;">Pasar desa sebagai pusat ekonomi dan pemberdayaan masyarakat pedesaan</span><br />
Pasar desa akan menguntungkan bagi peningkatan ekonomi rakyat dan pendapatan desa, sekalipun proses ekonomi tidak serta merta hanya terjadi di dalam pasar. Di era kapitalisme yang dibarengi dengan pesatnya kemajuan tekhnologi seperti yang berkembang sekarang ini, dimanapun akan sangat mudah melakukan transaksi ekonomi, akan tetapi yang membedakan dengan pasar di desa adalah potensi sosial yang sangat besar di balik adanya pasar desa yang sifatnya tradisional, dimana ada hubungan kekerabatan diantara warga, munculnya solidaritas dan kebersamaan yang tidak akan ditemui di pasar-pasar modern. Interaksi konstruktif yang unik dalam suasana pasar desa yang khas tersebut, dapat menjadi sarana transfer pengetahuan dan pendidikan, yang pada gilirannya diharapkan dapat memicu kesadaran diri untuk berperan aktif membangun masa depan lebih baik.</p>
<p style="text-align:justify;">Satu hal yang tidak boleh dilupakan dalam rangka membangun desa adalah pendekatan yang kita gunakan. Jika kemandirian masyarakat desa yang diharapkan, maka jelas pendekatan yang diterapkan haruslah berupa pendekatan edukatif. Dalam pendekatan ini ujung tombaknya adalah gerakan pemberdayaan, yang memiliki tiga mata tombak (disebut trisula), yaitu konseling, kunjungan rumah, dan pengorganisasian masyarakat. Ketiga mata tombak ini pada hakikatnya adalah upaya memfasilitasi proses pemecahan masalah dalam diri sasaran/klien. Pemberdayaan itupun tidak dilakukan secara serta-merta, melainkan secara berjenjang. Para petugas kesehatan dan petugas lintas sektor terkait memberdayakan pemuka-pemuka masyarakat, yang disusul dengan gerakan para pemuka masyarakat untuk memberdayakan unsur-unsur masyarakat (yaitu kader), dan akhirnya para kader bergerak memberdayakan seluruh masyarakat. Pendekatan edukatif memerlukan kesabaran dan ketangguhan dari para petugas (penggerak), karena mereka harus mengawal proses secara berkelanjutan hingga tercapainya kemandirian masyarakat. Di jajaran kesehatan, penggerak awal adalah para petugas di Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota, Rumah Sakit, serta Puskesmas dan jaringannya.</p>
<p style="text-align:justify;"><a href="http://www.gizi.net/cgi-bin/berita/fullnews.cgi?newsid1149242593,38026," target="_blank"><strong>Konsep Desa Siaga</strong></a> yang diinisiasi Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Tengah dan kemudian diterapkan secara nasional oleh Departemen Kesehatan, sudah memfasilitasi penggerakan dan pemberdayaan masyarakat melalui Forum Kesehatan Desa (FKD). Pengembangan Desa Siaga berarti juga pengembangan kapasitas Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota, Rumah Sakit, Puskesmas dan jaringannya. Oleh sebab itu terwujudnya Desa Siaga, perlu dipercepat sebagai salah satu upaya membuat rakyat sehat, namun sebaiknya juga diingat bahwa percepatan tersebut memerlukan ”modifikasi” konsep implementasinya agar lebih membumi dan mudah diterapkan secara terukur. Bila sudah tercipta permintaan masyarakat untuk memenuhi kebutuhannya sendiri maka terwujudnya desa siaga hanyalah masalah waktu.</p>
<p style="text-align:justify;"><span style="font-weight:bold;">Metode ”Tumpang Sari” membuat desa menjanjikan harapan</span><br />
Pasar Desa yang merupakan tempat transaksi jual-beli hasil rakyat di desa, jelas berpotensi menjadi titik tolak peningkatan ekonomi berbasis kerakyatan, kekerabatan yang terbangun bila dikelola secara baik dengan pendekatan yang pas, maka banyak hasil yang bisa diraih lebih dari nilai ekonomis saja. Transfer pengetahuan dan pendidikan dari para kader desa yang berperan aktif di pasar desa, membuat masyarakat desa lebih nyaman menerima informasi tanpa merasa di gurui, oleh karena proses transfer tersebut berlangsung sederhana, kekeluargaan dan mudah dimengerti.</p>
<p style="text-align:justify;">Kesadaran untuk selalu produktif, memerlukan kesehatan yang prima, kebiasaan berperilaku bersih dan sehat akan menjadi kebutuhan agar tidak sakit, dan membutuhkan biaya untuk penyembuhannya. Upaya promotif dan preventif ini dapat dimulai oleh siapa saja, kapan saja dan dimana saja, baik di tingkat individu, keluarga maupun masyarakat, dengan demikian masyarakat di tempatkan sebagai pusat perhatian pemeliharaan kesehatan.</p>
<p style="text-align:justify;">Satu kegiatan pokok, yang dapat diikuti oleh kegiatan lain pada waktu yang bersamaan dan dapat bersimbiose mutualisma, agar dapat menghasilkan multi manfaat tampaknya membuat desa dapat menjanjikan harapan kehidupan masa depan yang lebih baik, utamanya bagi kaum muda desa. ”Tumpang Sari” yang biasa kita kenal dalam bercocok tanam, ternyata bisa pula kita gunakan sebagai pendekatan untuk bercocok tanaman harapan melalui pasar desa.</p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#ffffff;">.</span></p>
<p style="text-align:justify;">dr. Riskiyana, M.Kes<br />
Pemerhati Puskesmas, PNS di BP3AKB Jateng</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/ariskiyana.wordpress.com/6/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/ariskiyana.wordpress.com/6/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/ariskiyana.wordpress.com/6/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/ariskiyana.wordpress.com/6/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/ariskiyana.wordpress.com/6/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/ariskiyana.wordpress.com/6/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/ariskiyana.wordpress.com/6/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/ariskiyana.wordpress.com/6/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/ariskiyana.wordpress.com/6/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/ariskiyana.wordpress.com/6/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/ariskiyana.wordpress.com/6/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/ariskiyana.wordpress.com/6/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/ariskiyana.wordpress.com/6/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/ariskiyana.wordpress.com/6/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=ariskiyana.wordpress.com&amp;blog=6128314&amp;post=6&amp;subd=ariskiyana&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ariskiyana.wordpress.com/2009/01/11/pasar-desa-untuk-mbuat-sehat-masyarakat-ndesa/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>6</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/4c39513a9e3e1407b8116b4a3749478e?s=96&#38;d=identicon" medium="image">
			<media:title type="html">ariskiyana</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://ariskiyana.files.wordpress.com/2009/01/desa.jpg?w=300" medium="image">
			<media:title type="html">desa</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Puskesmas: Kian Menguat atau Menguat..irkan?</title>
		<link>http://ariskiyana.wordpress.com/2009/01/11/puskesmas-kian-menguat-atau-menguatirkan/</link>
		<comments>http://ariskiyana.wordpress.com/2009/01/11/puskesmas-kian-menguat-atau-menguatirkan/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 11 Jan 2009 05:49:13 +0000</pubDate>
		<dc:creator>ariskiyana</dc:creator>
				<category><![CDATA[Opini]]></category>
		<category><![CDATA[customer driven company]]></category>
		<category><![CDATA[Dinkes Jateng]]></category>
		<category><![CDATA[Puskesmas]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ariskiyana.wordpress.com/?p=3</guid>
		<description><![CDATA[Apa yang ada dalam benak kita manakala kita terpikir pelayanan di puskesmas? apakah kita membayangkan suatu pelayanan bak hotel berbintang, ataukah sekedar losmen berbintang tujuh setengah?  Suatu pertanyaan yang mungkin bisa dijawab dengan berbagai tanggapan sesuai dengan asumsi dan pengalaman masing-masing. Hampir biasa terlihat di bangku panjang ruang tunggu puskesmas, sederetan pasien dengan dengan penampilan [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=ariskiyana.wordpress.com&amp;blog=6128314&amp;post=3&amp;subd=ariskiyana&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align:justify;">Apa yang ada dalam benak kita manakala kita terpikir pelayanan di puskesmas? apakah kita membayangkan suatu pelayanan bak hotel berbintang, ataukah sekedar losmen berbintang tujuh setengah?  Suatu pertanyaan yang mungkin bisa dijawab dengan berbagai tanggapan sesuai dengan asumsi dan pengalaman masing-masing.</p>
<p style="text-align:justify;">Hampir biasa terlihat di bangku panjang ruang tunggu puskesmas, sederetan pasien dengan dengan penampilan seadanya ‘sangaat sabaaar’ menunggu diperiksa. Bila diteliti lagi, sebenarnya sederhana saja keinginan mereka, ingin cepat dilayani, cepat sembuh, cepat dapat mencari nafkah lagi, namun tetap dengan biaya terjangkau, jadi tidak banyak atribut pelayanan yang dituntut. Namun tampaknya saat ini masyarakat sudah berubah, masyarakat tidak mau lagi dilayani seadanya dan tidak manjur, puskesmas dituntut lebih berfokus pada kepentingan pasien dan keamanan pelayanannya.</p>
<p style="text-align:justify;"><span style="font-weight:bold;"><br />
<span id="more-3"></span></span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="font-weight:bold;">Bagaimana puskesmas dicitrakan saat ini? </span><br />
Gedung dan peralatan yang kumuh? Hanya mengobati <strong>PUS</strong>ing <strong>KES</strong>eleo <strong>MAS</strong>uk angin? Obat hanya itu-itu saja? Masyarakat miskin saja yang berobat? Ngantri lama? Dan masih banyak lagi komentar, mungkin masih ada di benak pasien puskesmas .</p>
<p style="text-align:justify;">Suatu pengamatan oleh dr. Musyidah di Bireun NAD bersama WHO tahun  2005 menunjukkan harapan pengguna puskesmas sebagai berikut :</p>
<ol style="text-align:justify;">
<li>Petugas melayani dengan empati dan senang.</li>
<li>Hormat, sopan, bersikap santun dan berpakaian rapi-bersih selama melayani</li>
<li>Bersedia menjelaskan tindakan atau terapi yang akan diterapkan</li>
<li>Mempunyai ketrampilan pelayanan medis yang memadai.</li>
<li>Proses layanan yang sederhana, mudah dan cepat.</li>
<li>Biaya terjangkau</li>
</ol>
<p style="text-align:justify;">Mengamati hasil survei di atas menimbulkan petanyaan, perlukah perubahan dan pembaharuan Puskesmas? Perlukah puskesmas meningkatkan perannya untuk mempercepat tercapainya tujuan pembangunan masyarakat dalam bidang kesehatan? Jawabannya akan kembali kepada kita, karena berubah atau tidak mau berubah adalah suatu pilihan.</p>
<p style="text-align:justify;"><span style="font-weight:bold;">Kategori Puskesmas</span><br />
Petugas puskesmas yang besar kuantitasnya namun terbatas kualitasnya, mempersulit upaya peningkatan kualitas SDM. Pekerjaan dan lingkungan kerja yang relatif monoton, insentif yang tidak berbasis kinerja, besarnya intervensi kepentingan politik terhadap pelayanan kesehatan merupakan penyebab lain ketertinggalan mutu pelayanan puskesmas terhadap permintaan masyarakat. Pelatihan manajemen puskesmas, manajemen program/kegiatan,dan berbagai pelatihan lainnya bisa menjadi tumpul karena tidak semua pelatihan tersebut dapat ditindak lanjuti di puskesmas sesuai teori.</p>
<p style="text-align:justify;">Menghadapi berbagai disparitas keadaan puskesmas tersebut, Dinas Kesehatan Jateng, telah mencoba berupaya mengatasi dengan membuat pengkatagorian puskesmas berdasar beberapa aspek pelayanan yang ditetapkan secara dinamis. Penyusunan pengkatagorian puskesmas diharapkan dapat menjadi pedoman pola pengembangan dan pembinaan puskesmas oleh Dinkeskab/kota dengan memperhatikan perlakukan khusus untuk puskesmas yang tertinggal terutama di daerah terpencil, terisolir dan atau di daerah kepulauan.</p>
<p style="text-align:justify;">Pengkategorian puskesmas dari kategori I – khusus (IV) dapat juga untuk memprioritaskan upaya pengembangan yang terukur, baik bagi puskesmas yang sudah maju, maupun yang masih tertinggal. Hal ini akan lebih mendorong puskemas menjadi<em> ”costumer driven company”</em> yang peduli terhadap kepentingan pelanggan. Sebagai arah yang dituju pengkategorian puskesmas adalah standarisasi manajemen pelayanan puskesmas melalui akreditasi atau ISO.</p>
<p style="text-align:justify;">Puskesmas dengan kategori III dan khusus (IV), baik puskesmas rawat inap maupun rawat jalan, didorong menjadi puskesmas plus-plus yang mampu menginovasi produknya sesuai harapan pelanggan. Puskesmas rawat inap yang sudah berkembang lebih mirip rumah sakit kecil dari pada puskesmas, selayaknya dipikirkan untuk berkonsentrasi hanya pada pelayanan di dalam gedung, sedangkan pelayanan luar gedung dikerjakan puskesmas lain, namun tetap di dalam sistem yang sinergis, sehingga upaya peningkatan mutu layanan untuk memuaskan pelanggan akan menjadi lebih terfokus dan efektif.</p>
<p style="text-align:justify;"><span style="font-weight:bold;">Puskesmas Gratis</span><br />
Pelayanan yang baik dan memuaskan pelanggan, ternyata tetap membutuhkan <em>support system</em> yang memadai. Lingkungan yang tidak profesional dan <em>selfish </em>bisa membuat puskesmas kontra produktif bagaimanapun baiknya SDM yang mengelola.  Sampai dengan saat ini, sudah ada 17 kabupaten dari 35 kabupaten di Jateng yang sudah memutuskan memberikan pelayanan gratis untuk pelayanan kesehatan tingkat dasar. Terdapat perbedaan dalam sistem pembiayaannya, ada yang menggunakan sistem asuransi/jaminan kesehatan atau pelayanan kesehatan gratis.</p>
<p style="text-align:justify;">Menurut Prof. Ascobat Gani, seorang pakar asuransi, pelayanan gratis menghadapi beberapa masalah, antara lain desainnya tidak adil/merata, keberlangsungan dukungan pembiayaan, dampak pada upaya kesehatan masyarakat dan motivasi kerja. Sedangkan Asuransi kesehatan menghadapi tantangan kesulitan pembentukan badan pelaksana, profesionalisme pengelola, dan pemerataan akses pelayanan. Apapun sistem yang digunakan tentu harus dapat menghasilkan layanan yang memuaskan dan bermutu meskipun untuk orang miskin sekalipun, sehingga bila pelayanan gratis yang menjadi pilihan maka harus pelayanan gratis yang memberdayakan.</p>
<p style="text-align:justify;">Sehubungan dengan hal tersebut di atas, maka keputusan pelayanan gratis harus disertai setidak-tidaknya dengan penguatan upaya-upaya pencegahan penyakit, peningkatan mutu pelayanan dan upaya menekan biaya kesehatan yang memadai.</p>
<p style="text-align:justify;"><span style="font-weight:bold;">Puskesmas bebas cemas</span><br />
Bagaimanapun keadaannya, puskesmas tetap menjadi tumpuan harapan masyarakat, utamanya masyarakat miskin, terlebih lagi di masyarakat terpencil, terisolir atau kepulauan. Pada saat menghadapi bencana alam, kecelakaan lalu lintas atau wabah penyakit maka puskesmas akan lebih besar lagi peranannya. Penyedia layanan yang trampil mengelola puskesmas, pelanggan yang puas, lingkungan yang mendukung akan membuat kepercayaan masyarakat terhadap puskesmas meningkat. Apabila Bupati,Muspida, tokoh agama/masyarakat berkenan untuk memanfaatkan puskesmas untuk memelihara kesehatannya, maka masyarakat tidak akan ragu, karyawan puskesmas lebih percaya diri karena merasa dihargai, dan Dinas Kesehatan termotivasi untuk selalu mengupayakan peningkatan mutu berkesinambungan, lantas apalagi yang dicemaskan&#8230;???</p>
<p><span style="color:#ffffff;">.</span></p>
<p>dr. Riskiyana,  M.Kes.<br />
Pemerhati Puskesmas, PNS di BP3AKB Jateng</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/ariskiyana.wordpress.com/3/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/ariskiyana.wordpress.com/3/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/ariskiyana.wordpress.com/3/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/ariskiyana.wordpress.com/3/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/ariskiyana.wordpress.com/3/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/ariskiyana.wordpress.com/3/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/ariskiyana.wordpress.com/3/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/ariskiyana.wordpress.com/3/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/ariskiyana.wordpress.com/3/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/ariskiyana.wordpress.com/3/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/ariskiyana.wordpress.com/3/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/ariskiyana.wordpress.com/3/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/ariskiyana.wordpress.com/3/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/ariskiyana.wordpress.com/3/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=ariskiyana.wordpress.com&amp;blog=6128314&amp;post=3&amp;subd=ariskiyana&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ariskiyana.wordpress.com/2009/01/11/puskesmas-kian-menguat-atau-menguatirkan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>16</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/4c39513a9e3e1407b8116b4a3749478e?s=96&#38;d=identicon" medium="image">
			<media:title type="html">ariskiyana</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Kurang Tidur Picu Hipertensi</title>
		<link>http://ariskiyana.wordpress.com/2008/12/13/kurang-tidur-picu-hipertensi/</link>
		<comments>http://ariskiyana.wordpress.com/2008/12/13/kurang-tidur-picu-hipertensi/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 13 Dec 2008 04:05:02 +0000</pubDate>
		<dc:creator>ariskiyana</dc:creator>
				<category><![CDATA[Opini]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ariskiyana.wordpress.com/?p=47</guid>
		<description><![CDATA[TAMBAH satu lagi masalah kesehatan yang menghantui mereka yang kurang tidur. Sebuah penelitian baru yang dipublikasikan dalam jurnal Asosiasi Kesehatan Amerika menemukan bahwa tidur kurang dari 7,5 jam sehari dapat meningkatkan risiko serangan jantung, terutama bagi mereka yang tekanan darahnya naik di malam hari. “Kebiasaan tidur besar pengaruhnya terhadap kesehatan,” kata kepala studi, Dr Kazuo [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=ariskiyana.wordpress.com&amp;blog=6128314&amp;post=47&amp;subd=ariskiyana&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align:justify;"><span style="font-weight:bold;"><a href="http://ariskiyana.files.wordpress.com/2009/01/tensimeter.jpg"><img class="alignleft size-thumbnail wp-image-52" title="tensimeter" src="http://ariskiyana.files.wordpress.com/2009/01/tensimeter.jpg?w=101&#038;h=96" alt="tensimeter" width="101" height="96" /></a>TAMBAH </span>satu lagi masalah kesehatan yang menghantui mereka yang kurang tidur. Sebuah penelitian baru yang dipublikasikan dalam jurnal Asosiasi Kesehatan Amerika menemukan bahwa tidur kurang dari 7,5 jam sehari dapat meningkatkan risiko serangan jantung, terutama bagi mereka yang tekanan darahnya naik di malam hari.</p>
<p style="text-align:justify;">“Kebiasaan tidur besar pengaruhnya terhadap kesehatan,” kata kepala studi, <strong>Dr Kazuo Eguchi </strong>dari Jichi Me-dical University di Tochigi, Jepang. Studi terakhir menemukan adanya kaitan antara kebiasaan tidur yang tidak proporsional ’’kurang tidur maupun tidur secara berlebihan’’ dengan berbagai masalah kesehatan seperti obesitas, diabetes, serangan jantung, dan mati muda.<br />
<span id="more-47"></span></p>
<p style="text-align:justify;">Dalam penelitian ini Eguchi menguji adanya hubungan antara tidur dan penyakit jantung pada manula. Selama lebih dari 50 bulan, peneliti memonitor 1.225 partisipan yang rata-rata berusia 70 tahun dan memiliki riwayat hipertensi. Selama masa studi, partisipan melaporkan kebiasaan tidur malam mereka dalam buku diari. Sementara itu tekanan darah mereka dipantau baik siang maupun malam. Kejadian yang terkait dengan jantung seperti stroke, serangan jantung juga dipantau sepanjang waktu.</p>
<p style="text-align:justify;">Hasilnya diketahui telah terjadi 99 kasus kardiovaskular selama periode penelitian. Pada mereka yang tidur kurang dari 7,5% dan tekanan darahnya naik, insidennya 33% lebih tinggi. Namun pada mereka yang kurang tidur namun tidak mengalami kenaikan tekanan darah, tidak terjadi peningkatan insiden serangan jantung. “Tidur merupakan aktivitas yang sangat penting bagi siapapun, baik anak-anak maupun orang tua,” kata Eguchi. “Namun ini menjadi lebih penting bagi mereka yang memiliki faktor risiko seperti hipertensi.”</p>
<p style="text-align:justify;">Normalnya, tekanan darah turun selama kita tidur, namun jika kurang tidur, hipertensi sangat mungkin muncul. Karena itu tidur lebih lama sangat vital bagi pasien tekanan darah tinggi. Menjaga konsistensi pola tidur juga penting.</p>
<p style="text-align:justify;"><span style="font-weight:bold;">Ada Sunscreen dalam Tablet!</span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="font-weight:bold;">JIKA </span>Anda termasuk orang yang takut terpapar matahari dan tak mau repot mengoleskan tabir surya setiap kali ingin keluar, temuan ini bisa jadi sangat menggembirakan bagi Anda. Ya, kini telah ada suplemen perlindungan kulit berbentuk tablet. Dengan suplemen ini Anda tidak perlu lagi mengoleskan sunscreen (tabir surya) untuk melindungi kulit dari sinar UVA dan B yang dapat menyebabkan keriput dan kanker kulit.</p>
<p style="text-align:justify;">Suplemen ini dinamakan Heliocare, terbuat dari polypodium leucotomus, sebuah ekstrak yang diperoleh dari tipe tanaman paku. Uji coba terhadap produk ini telah dilakukan di Amerika Serikat dan disinyalir dapat memberikan perlindungan yang berarti bagi kulit.</p>
<p style="text-align:justify;">Sebuah studi menunjukkan bahwa Heliocare dapat membuat kulit terhindar dari terbakar cahaya matahari. Selain itu obat ini juga anti peradangan, anti radikal bebas, dan mengandung antioksidan yang merupakan cara tercepat untuk menghindari kerutan dan garis halus pada wajah.</p>
<p style="text-align:justify;">Untuk melindungi kulit, kita tidak perlu mengonsumsi ekstrak ini setiap hari. Cukup minum dua kapsul satu jam sebelum beraktivitas di luar ruangan, maka kulit akan terlindungi. Namun Anda disarankan tetap menggunakan sunscreen agar perlindungannya lebih baik.</p>
<p style="text-align:justify;">Selain itu ada baiknya Anda mengonsultasikan hal ini kepada dokter sebelum memutuskan untuk menggunakannya. Dan perlu dicatat, heliocare tidak cocok untuk wanita yang sedang hamil dan menyusui.</p>
<p style="text-align:justify;"><span style="font-weight:bold;">Gas Rumah Kaca Kurangi Nutrisi Makanan</span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="font-weight:bold;">KANDUNGAN </span>nutrisi kentang bakar pada abad mendatang tidak akan sebanyak periode sebelumnya, demikian menurut hasil penelitian terbaru dari Universitas Southwestern, Texas, Amerika Serikat, yang diterbitkan dalam jurnal Global Change Biology.</p>
<p style="text-align:justify;">Menurut seorang peneliti, Max Taub, seiring dengan akumulasi gas karbondioksida (CO2) di atmosfer akibat pembakaran bahan bakar fosil, kadar nutrisi di banyak jenis bahan baku pangan pun menurun. Max dalam penelitiannya menganalisis lebih dari 200 hasil riset para peneliti lain.</p>
<p style="text-align:justify;">Kajian yang dilakukan mengarah pada keterkaitan antara kenaikan gas rumah kaca dengan jumlah protein di dalam beras, gandum, kacang kedelai, dan kentang. Ia juga mencermati bahan pangan utama yang banyak dikonsumsi di negara-negara miskin, yang sangat bergantung bisa mendapatkan protein dari pola makan mereka.</p>
<p style="text-align:justify;">Analisis Max menyebutkan bahwa kenaikan gas CO2 menimbulkan kadar protein dalam kentang menurun hingga 14%. Sementara kadar protein gandum dan beras hampir 10%. Angka penurunan kadar protein yang paling kecil ditunjukkan oleh kacang kedelai, karena bahan pangan ini hanya terdegradasi kandungan proteinnya sebanyak 1,4%. “Ini hanya satu dari banyak efek berubahnya iklim global,” kata Max.</p>
<p style="text-align:justify;">Mengapa perubahan iklim berdampak langsung terhadap penurunan kadar protein dalam makanan? Para ahli menjelaskan bahwa kenaikan CO2 di atmosfer berjalan seiring dengan volume karbon yang disimpan di dalam jaringan tanaman.</p>
<p style="text-align:justify;">Lalu bila karbon semakin banyak disimpan di jaringan tubuh tanaman, maka konsentrasi elemen lain otomatis menurun &#8211; salah satunya adalah gas nitrogen yang menjadi komponen kunci zat protein.</p>
<p style="text-align:justify;">Max menjelaskan, penurunan kadar nitrogen bisa diatasi dengan memberikan pupuk nitrogen, tapi langkah ini memicu masalah lingkungan karena dampaknya buruk bila pupuk nitrogen sampai mencemari air.</p>
<p style="text-align:justify;">Solusi lain yang bisa ditawarkan adalah pengembangan bibit tanaman pangan yang lebih tinggi konsentrasi proteinnya, minimal lebih besar daripada kadar CO2. (Nur Hidayatullah-13)</p>
<p style="text-align:justify;">
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#ffffff;">.</span></p>
<p style="text-align:justify;">Sumber:  <a href="http://suaramerdeka.com/smcetak/index.php?fuseaction=beritacetak.detailberitacetak&amp;id_beritacetak=42891" target="_blank">Suara Merdeka 11 Desember 2008</a></p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/ariskiyana.wordpress.com/47/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/ariskiyana.wordpress.com/47/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/ariskiyana.wordpress.com/47/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/ariskiyana.wordpress.com/47/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/ariskiyana.wordpress.com/47/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/ariskiyana.wordpress.com/47/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/ariskiyana.wordpress.com/47/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/ariskiyana.wordpress.com/47/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/ariskiyana.wordpress.com/47/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/ariskiyana.wordpress.com/47/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/ariskiyana.wordpress.com/47/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/ariskiyana.wordpress.com/47/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/ariskiyana.wordpress.com/47/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/ariskiyana.wordpress.com/47/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=ariskiyana.wordpress.com&amp;blog=6128314&amp;post=47&amp;subd=ariskiyana&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ariskiyana.wordpress.com/2008/12/13/kurang-tidur-picu-hipertensi/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/4c39513a9e3e1407b8116b4a3749478e?s=96&#38;d=identicon" medium="image">
			<media:title type="html">ariskiyana</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://ariskiyana.files.wordpress.com/2009/01/tensimeter.jpg?w=101" medium="image">
			<media:title type="html">tensimeter</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Nyeri Sendi-sendi akibat Rematik</title>
		<link>http://ariskiyana.wordpress.com/2008/12/12/nyeri-sendi-sendi-akibat-rematik/</link>
		<comments>http://ariskiyana.wordpress.com/2008/12/12/nyeri-sendi-sendi-akibat-rematik/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 12 Dec 2008 08:35:02 +0000</pubDate>
		<dc:creator>ariskiyana</dc:creator>
				<category><![CDATA[Dari Media]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ariskiyana.wordpress.com/?p=22</guid>
		<description><![CDATA[Oleh Bambang Kisworo Penyakit rematik (rheumatoid arthritis) merupakan suatu penyakit di mana terjadi proses peradangan pada selaput bagian dalam kapsul pembungkus sendi, sehingga sendi membengkak dan terasa nyeri. Penyakit rematik merupakan salah satu penyebab nyeri sendi, khususnya sendi-sendi kecil di daerah pergelangan tangan dan jari-jari. ISTILAH penyakit rematik telah sedemikian populer di kalangan masyarakat awam, [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=ariskiyana.wordpress.com&amp;blog=6128314&amp;post=22&amp;subd=ariskiyana&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<ul style="text-align:justify;">
<li><strong>Oleh Bambang Kisworo</strong></li>
</ul>
<p style="text-align:justify;">Penyakit rematik (rheumatoid arthritis) merupakan suatu penyakit di mana terjadi proses peradangan pada selaput bagian dalam kapsul pembungkus sendi, sehingga sendi membengkak dan terasa nyeri. Penyakit rematik merupakan salah satu penyebab nyeri sendi, khususnya sendi-sendi kecil di daerah pergelangan tangan dan jari-jari.</p>
<p style="text-align:justify;">ISTILAH penyakit rematik telah sedemikian populer di kalangan masyarakat awam, sehingga hampir semua keluhan nyeri sendi dianggap sebagai penyakit rematik. Penyebab lain yang sering dikaitkan dengan keluhan nyeri adalah asam urat. Pada kenyataannya, anggapan tersebut keliru, karena kedua penyakit tersebut, yaitu penyakit rematik dan asam urat, hanya menjadi penyebab sebagian kecil dari keluhan nyeri sendi yang banyak dialami oleh manusia selama hidupnya.</p>
<p style="text-align:justify;"><span id="more-22"></span></p>
<p style="text-align:justify;">Penyebab terbanyak adalah pengapuran sendi atau osteoartritis (yang pernah dikupas oleh penulis di Harian Suara Merdeka pada tanggal 31 Juli 2008). Penyakit rematik berbeda dengan pengapuran sendi (osteoartritis) di mana pada pengapuran sendi terjadi penipisan lapisan tulang rawan sendi, sehingga ujung tulang pembentuk sendi saling bergesekan secara langsung tanpa lapisan tulang rawan dan terasa nyeri. Penyakit rematik cenderung mengenai sendi-sendi kecil di daerah jari-jari dan pergelangan tangan, meskipun adakalanya mengenai sendi siku, bahu, pergelangan kaki dan lutut. Sementara pengapuran sendi lebih banyak mengenai sendi besar seperti lutut dan pinggul. Selain itu, penyakit rematik hampir selalu menyerang sendi secara simetris (yaitu sisi kanan dan kiri) dan mengenai tiga atau lebih secara bersamaan. Pengapuran sendi pada umumnya hanya mengenai satu sendi saja, misalnya lutut tanpa disertai nyeri pada sendi yang lain.</p>
<h4 style="text-align:justify;">Penyebab</h4>
<p style="text-align:justify;">Untuk memahami penyebab penyakit rematik, perlu diketahui bahwa tubuh manusia memiliki sistem pertahanan terhadap bakteri dan virus, yang dikenal sebagai antibodi. Antibodi beredar di dalam aliran darah dan dibentuk oleh sel-sel darah putih sebagai respon terhadap masuknya bakteri atau virus ke dalam tubuh manusia.</p>
<p style="text-align:justify;">Pada orang normal, antibodi tersebut berfungsi membunuh bakteri dan virus yang menyebabkan infeksi. Pada orang yang menderita penyakit rematik, antibodi yang dibentuk oleh tubuh dengan tujuan membunuh bakteri dan virus tersebut justru secara keliru menyerang balik ke tubuh orang tersebut. Bagian tubuh yang diserang oleh antibodi tersebut adalah lapisan dalam kapsul pembungkus sendi, yang disebut lapisan sinovium.<br />
Serangan antibodi tersebut menyebabkan lapisan sinovium meradang, sehingga sendi membengkak dan terasa nyeri. Peradangan sinovium menyebabkan produksi cairan sendi bertambah banyak sehingga membuat sendi bertambah bengkak dan nyeri.</p>
<p style="text-align:justify;">Sampai sekarang tidak diketahui secara pasti mengapa pada orang yang menderita penyakit rematik antibodi justru salah sasaran mengenai tubuh sendiri. Serangan antibodi terhadap tubuh sendiri seperti yang terjadi pada penyakit rematik ini dapat diibaratkan seperti sebuah pemberontakan atau kudeta di sebuah negara. Tentara yang dibentuk untuk mempertahankan kedaulatan suatu negara justru berbalik menyerang negaranya sendiri.</p>
<p style="text-align:justify;">Penyakit rematik dapat mengenai semua lapisan usia, mulai dari anak-anak sampai orang tua. Ada beberapa faktor yang meningkatkan risiko seseorang untuk menderita penyakit rematik, yaitu: (1) wanita memiliki risiko 2-3 kali lebih besar dibanding laki-laki; (2) kelompok usia 40-60 tahun paling tinggi risikonya menderita penyakit rematik; (3) jika di dalam sebuah keluarga ada yang menderita penyakit ini. dan (4) merokok.</p>
<h4 style="text-align:justify;">Gejala</h4>
<p style="text-align:justify;">Pada stadium awal, penyakit rematik biasanya mengenai sendi-sendi berukuran kecil di daerah pergelangan tangan dan jari-jari. Ada tiga sendi yang paling sering terserang, yaitu (1) sendi pangkal jari-jari tangan, (2) sendi buku-buku jari tangan bagian atas, dan (3) sendi pangkal jari-jari kaki. Pada stadium awal, jari-jari tersebut terasa kaku pada pagi hari sebagai akibat penumpukan cairan di dalam sendi karena peradangan lapisan sinovium. Setelah digerak-gerakkan, kekakuan sendi-sendi tersebut biasanya berkurang.</p>
<p style="text-align:justify;">Selain kaku, sendi-sendi tersebut juga membengkak, terasa nyeri, hangat dan acapkali tampak kemerahan. Rasa nyeri dan kaku dapat sedemikian berat sehingga gerakan sendi terbatas dan sangat mengganggu aktivitas sehari-hari.</p>
<p style="text-align:justify;">Tanpa pengobatan yang tepat, peradangan lapisan sinovium sendi yang terjadi selama bertahun-tahun dapat menyebabkan kerusakan permukaan tulang rawan sendi jari-jari tangan dan mengakibatkan cacat yang permanen. Jari-jari menjadi bengkok dan bergeser arahnya ke sisi jari kelingking.</p>
<p style="text-align:justify;">Selain ketiga sendi tersebut, penyakit rematik juga dapat mengenai sendi pergelangan tangan, siku, bahu, lutut, pergelangan kaki, serta tulang leher dan rahang, meskipun lebih jarang dan berbeda-beda untuk setiap penderita.. Perlu diingat bahwa penyakit rematik tidak pernah hanya mengenai satu sendi saja, tetapi paling sedikit menyerang tiga sendi dalam waktu bersamaan. Nyeri sendi yang hanya dialami pada satu sendi saja tidak mungkin disebabkan oleh penyakit rematik.</p>
<p style="text-align:justify;">Keluhan kaku, nyeri dan bengkak akibat penyakit rematik dapat berlangsung terus-menerus dan semakin lama semakin berat, tetapi adakalanya hanya berlangsung selama beberapa hari dan kemudian sembuh dengan pengobatan. Namun demikian, kebanyakan penyakit rematik berlangsung kronis, yaitu sembuh dan kambuh kembali secara berulang-ulang sehingga menyebabkan kerusakan sendi secara menetap. Keluhan kaku dan nyeri sendi pada penyakit rematik adakalanya disertai oleh perasaan mudah lelah.</p>
<p style="text-align:justify;">Selain menyerang kapsul pembungkus sendi, pada sekitar 15% penderita, penyakit rematik juga dapat menyebabkan kelainan pada bagian tubuh lain, seperti kulit, mata dan paru-paru. Di daerah kulit siku dan tumit dapat terbentuk benjolan yang disebut sebagai nodul subkutan, pada paru-paru dapat terjadi fibrosis (pembentukan jaringan parut) yang dapat menganggu fungsi paru-paru, sementara kornea mata dapat mengalami peradangan yang disebut keratokonjungtivitis sika.</p>
<p style="text-align:justify;">Menentukan seseorang menderita penyakit rematik bukan hal yang mudah, seperti memastikan penyakit pengapuran sendi yang dapat mudah terlihat jelas dengan foto Rontgen sendi yang terserang. Oleh karena itu, pada tahun 1987 American College of Rheumatology menetapkan kriteria sebagai pedoman diagnosis penyakit rematik sebagai berikut:</p>
<ol style="text-align:justify;">
<li> Kekakuan di waktu pagi pada atau di sekitar sendi yang berlangsung satu jam atau lebih sebelum mengalami perbaikan maksimal.</li>
<li> Pembengkakan pada tiga sendi atau lebih.</li>
<li>Pembengkakan sendi pangkal jari-jari tangan, sendi buku-buku jari tangan bagian atas, atau pergelangan tangan.</li>
<li>Pembengkakan sendi harus simetris mengenai sisi kanan dan kiri.</li>
<li>Benjolan di bawah kulit (nodul subkutan).</li>
<li>Tes faktor rematik yang positif di dalam darah.</li>
<li>Erosi dan/atau pengeroposan tulang di sekitar sendi-sendi jari-jari dan/atau pergelangan tangan.</li>
</ol>
<p style="text-align:justify;">Untuk memastikan diagnosis penyakit rematik harus ditemukan 4 dari 7 kriteria tersebut pada seseorang dan kriteria nomer 1-4 harus telah berlangsung paling sedikit selama 6 minggu.</p>
<p style="text-align:justify;">Untuk menetapkan diagnosis penyakit rematik, selain pemeriksaan fisik terhadap sendi yang meradang, juga perlu dilakukan pemeriksaan foto Rontgen dan pemeriksaan darah. Tujuan pemeriksaan darah adalah untuk menemukan suatu jenis antibodi yang disebut faktor rematik. Perlu diketahui bahwa tidak semua penderita penyakit rematik memiliki antibodi tersebut, sebaliknya tidak semua orang yang mempunyai antibodi faktor rematik di dalam darahnya pasti menderita penyakit rematik, karena ada beberapa penyakit lain yang juga menyebabkan terbentuknya antibodi tersebut di dalam darah.</p>
<p style="text-align:justify;">Menyimak ketatnya kritera di atas, dapat dikatakan bahwa tidaklah gampang menetapkan diagnosis penyakit rematik pada seorang penderita. Oleh karena itu, kebiasaan (yang keliru) dari sebagian  masyarakat awam (dan bahkan beberapa dokter) yang dengan mudah menghubungkan keluhan nyeri sendi dengan penyakit rematik merupakan keadaan yang merugikan karena dapat berakibat salah diagnosis dan salah pengobatan terhadap keluhan nyeri sendi yang sebenarnya sama sekali tidak disebabkan oleh penyakit rematik. (13)</p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#ffffff;">.</span></p>
<p style="text-align:justify;">
<p style="text-align:justify;">Sumber: <a href="http://suaramerdeka.com/smcetak/index.php?fuseaction=beritacetak.detailberitacetak&amp;id_beritacetak=42892" target="_blank">Suara Merdeka, 11 Des. 2008</a></p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/ariskiyana.wordpress.com/22/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/ariskiyana.wordpress.com/22/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/ariskiyana.wordpress.com/22/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/ariskiyana.wordpress.com/22/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/ariskiyana.wordpress.com/22/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/ariskiyana.wordpress.com/22/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/ariskiyana.wordpress.com/22/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/ariskiyana.wordpress.com/22/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/ariskiyana.wordpress.com/22/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/ariskiyana.wordpress.com/22/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/ariskiyana.wordpress.com/22/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/ariskiyana.wordpress.com/22/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/ariskiyana.wordpress.com/22/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/ariskiyana.wordpress.com/22/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=ariskiyana.wordpress.com&amp;blog=6128314&amp;post=22&amp;subd=ariskiyana&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ariskiyana.wordpress.com/2008/12/12/nyeri-sendi-sendi-akibat-rematik/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/4c39513a9e3e1407b8116b4a3749478e?s=96&#38;d=identicon" medium="image">
			<media:title type="html">ariskiyana</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Si Jahat dan si Baik Itu Bernama Kolesterol</title>
		<link>http://ariskiyana.wordpress.com/2008/11/22/si-jahat-dan-si-baik-itu-bernama-kolesterol/</link>
		<comments>http://ariskiyana.wordpress.com/2008/11/22/si-jahat-dan-si-baik-itu-bernama-kolesterol/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 22 Nov 2008 08:40:49 +0000</pubDate>
		<dc:creator>ariskiyana</dc:creator>
				<category><![CDATA[Dari Media]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ariskiyana.wordpress.com/?p=25</guid>
		<description><![CDATA[Kolesterol siapa yang tak pernah mendengarnya? Kata ini begitu populer. Bukan karena kebaikannya, melainkan karena peranannya sebagai pemicu penyakit jantung koroner, stroke, diabetes, dan impotensi. Orang pun banyak yang antipati padanya. Padahal zat ini juga berguna bagi tubuh. Kolesterol adalah salah satu komponen lemak, selain trigliserida, fosfolipid, dan asam lemak bebas. Sebagaimana zat gizi yang [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=ariskiyana.wordpress.com&amp;blog=6128314&amp;post=25&amp;subd=ariskiyana&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align:justify;">Kolesterol siapa yang tak pernah mendengarnya? Kata ini begitu populer. Bukan karena kebaikannya, melainkan karena peranannya sebagai pemicu penyakit jantung koroner, stroke, diabetes, dan impotensi. Orang pun banyak yang antipati padanya. Padahal zat ini juga berguna bagi tubuh.</p>
<p style="text-align:justify;">Kolesterol adalah salah satu komponen lemak, selain trigliserida, fosfolipid, dan asam lemak bebas. Sebagaimana zat gizi yang lain, lemak juga sangat berguna bagi tubuh. Menurut dr John Gullota, ketua AMA Therapeutics Committee, sebagaimana dikutip ‘’Good Health &amp; Medicine’’, kolesterol berfungsi membentuk dinding sel (membran sel) dalam tubuh.</p>
<p style="text-align:justify;">Selain itu ia juga berperan penting dalam produksi hormon seks, vitamin D, serta untuk fungsi otak dan saraf. Manusia rata-rata membutuhkan 1.100 miligram kolesterol per hari untuk memelihara dinding sel dan fungsi fisiologis lain.</p>
<p style="text-align:justify;">Kolesterol yang terdapat dalam tubuh manusia berasal dari dua sumber utama yaitu dari makanan yang dikonsumsi dan dari pembentukan oleh hati. Kolesterol yang berasal dari makanan terutama terdapat pada daging, unggas, ikan, dan produk olahan susu. Jeroan daging seperti hati sangat tinggi kandungan kolesterolnya, sedangkan makanan yang berasal dari tumbuhan justru tidak mengandung kolesterol sama sekali.</p>
<p style="text-align:justify;"><span id="more-25"></span><br />
Setelah makan, kolesterol akan diserap oleh usus halus untuk selanjutnya masuk ke sirkulasi darah dan disimpan dalam suatu mantel protein. Mantel protein-kolesterol ini kemudian dikenal dengan nama kilomikron.</p>
<p style="text-align:justify;">Hati sendiri mempunyai fungsi ganda yaitu mengambil kolesterol dari sirkulasi darah dan memproduksi kembali kolesterol bila keadaan memungkinkan. Setelah makan, hati akan menyaring kilomikron yang berada di sirkulasi darah, lalu diantara waktu makan, hati akan mengeluarkan kembali kolesterol yang diserap tersebut kembali ke peredaran darah. Disini hati memegang peranan dalam menjaga keseimbangan kolesterol yang berada dalam sirkulasi darah manusia.</p>
<p style="text-align:justify;"><span style="font-weight:bold;">Si Baik dan Si Jahat</span></p>
<p style="text-align:justify;">Terdapat berbagai macam kolesterol di dalam darah. Ada yang bersahabat dengan tubuh, tapi tidak sedikit yang berbahaya. Kolesterol yang termasuk kategori kolesterol baik adalah HDL (High Density Lipoproteins). Sekitar 0,25 hingga 0,33 bagian kolesterol dalam darah terdiri atas kolesterol HDL. Adapun kolesterol yang tergolong jahat adalah LDL (Low Density Lipoproteins), Trigliserida, dan Lp(a).</p>
<p style="text-align:justify;">Kolesterol LDL sering disebut dengan kolesterol jahat, karena peningkatan kadar kolesterol ini dalam darah dihubungkan dengan peningkatan risiko berbagai penyakit.</p>
<p style="text-align:justify;">Kolesterol LDL akan berakumulasi di dinding arteri sehingga membentuk semacam plak yang menyebabkan dinding arteri menjadi kaku dan rongga pembuluh darah menyempit. Proses ini dikenal dengan nama atherosklerosis.</p>
<p style="text-align:justify;">Aterosklerosis bisa terjadi pada arteri di otak, jantung, ginjal, organ vital lainnya, serta lengan dan tungkai. Jika aterosklerosis terjadi di dalam arteri yang menuju ke otak (arteri karotid), maka bisa terjadi stroke.</p>
<p style="text-align:justify;">Jika terjadi di dalam arteri yang menuju ke jantung (arteri koroner), bisa terjadi serangan jantung.<br />
Kolesterol HDL sebaliknya sering disebut dengan kolesterol baik karena kolesterol ini mencegah terjadinya atherosklerosis dengan cara mengeluarkan kolesterol jahat dari dinding arteri dan mengirimkannya ke hati.</p>
<p style="text-align:justify;">Jadi, bila kadar kolesterol LDL tinggi sedangkan kadar kolesterol HDL rendah maka merupakan faktor risiko terjadinya atherosklerosis. Sebaliknya yang diharapkan adalah kadar kolesterol LDL rendah dan kadar kolesterol HDL yang tinggi.</p>
<p style="text-align:justify;"><span style="font-weight:bold;">Faktor Risiko</span></p>
<p style="text-align:justify;">Banyak orang beranggapan hanya mereka yang tua atau yang gemuk saja yang berisiko menderita kolesterol tinggi. Padahal penyakit ini tidak mengenal usia. Mereka yang muda bisa saja terserang penyakit ini.</p>
<p style="text-align:justify;">Pola makan yang tidak seimbang salah satu penyebabnya. Makanan yang banyak mengandung lemak jenuh dan kolesterol akan meningkatkan kadar kolesterol LDL dalam darah. Lemak dibagi menjadi lemak jenuh dan lemak tak jenuh berdasarkan pada struktur kimianya.</p>
<p style="text-align:justify;">Lemak jenuh terutama berasal dari daging dan produk olahan susu yang akan meningkatkan kadar kolesterol darah. Beberapa minyak tumbuhan yang dibuat dari buah kelapa, sawit, dan cokelat juga tinggi kadar lemak jenuhnya.</p>
<p style="text-align:justify;">Selain pola makan yang tidak seimbang, faktor keturunan, kelebihan berat badan, kurangnya aktivitas fisik dan olahraga, serta merokok merupakan penyebab umum kolesterol tinggi.</p>
<p style="text-align:justify;">Adapun kondisi kesehatan yang dapat meningkatkan risiko kolesterol tinggi di antaranya konsumsi alkohol yang berlebihan, diabetes, penyakit ginjal, penyakit liver, dan underactive thyroid gland yang disebut hypothyroidism.</p>
<p style="text-align:justify;">Pada pasien dengan familial hypercholesterolemia (FH), terdapat pengurangan jumlah yang signifikan dari reseptor kolesterol LDL dalam hatinya.Pasien ini juga akan rentan menderita atherosklerosis dan serangan jantung pada usia muda.</p>
<p style="text-align:justify;">Sampai pada usia 45 tahun, laki-laki cenderung mempunyai kolesterol total yang lebih tinggi dibanding perempuan. Sebaliknya perempuan cenderung mempunyai tingkat HDL yang lebih tinggi. Karenanya laki-laki pada usia 40 tahunan mempunyai kemungkinan tingkat kematian akibat penyakit jantung empat kali lebih tinggi daripada perempuan pada usia yang sama.</p>
<p style="text-align:justify;">Tetapi dengan berjalannya waktu, statistik ini berubah. Setelah menopause, tingkat LDL perempuan cenderung naik, dan tingkat HDL-nya menurun. Jadi, risiko penyakit jantungnya berlanjut naik bersamaan dengan usianya. Setelah menopause, perempuan cenderung mempunyai tingkat LDL yang lebih tinggi dibanding laki-laki pada usia yang sama.</p>
<p style="text-align:justify;"><span style="font-weight:bold;">Tanpa Gejala</span></p>
<p style="text-align:justify;">Pada sebagian besar kasus, penderita kolesterol tinggi (hiperkolesterol) tidak merasakan gejala sama sekali. Biasanya mereka baru mengetahui menderita hiperkolesterol setelah dinyatakan menderita penyakit jantung koroner atau stroke.</p>
<p style="text-align:justify;">Namun, sebagian orang merasakan sakit kepala dan pegal-pegal sebagai gejala awal. Gejala ini muncul sebagai akibat dari kurangnya oksigen. Kadar kolesterol yang tinggi menyebabkan aliran darah menjadi kental sehingga oksigen menjadi kurang.</p>
<p style="text-align:justify;">Ketiadaan gejala yang khas membuat kita harus selalu waspada dengan melakukan tes kadar kolesterol secara teratur. Dokter menyarankan agar setelah usia 20 tahun kita melakukan tes kolesterol minimal lima tahun sekali. Tes bisa dilakukan di laboratorium atau dilakukan sendiri dengan menggunakan  alat cholesterol-meter yang dapat langsung memeriksa kadar kolesterol dalam darah.</p>
<p style="text-align:justify;">Jika total kolesterol kurang dari 200 miligram per desiliter atau mg/dL berarti masih normal. Untuk LDL, yang ideal adalah  kurang dari 100 miligram per desiliter. Adapun HDL usahakan kadarnya lebih dari 40 mg/dl. (Nashihah-13)</p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#ffffff;">.</span></p>
<p style="text-align:justify;"><a href="http://suaramerdeka.com/smcetak/index.php?fuseaction=beritacetak.detailberitacetak&amp;id_beritacetak=39977" target="_blank">Sumber: Suara Merdeka, 20 Nov 2008</a></p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/ariskiyana.wordpress.com/25/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/ariskiyana.wordpress.com/25/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/ariskiyana.wordpress.com/25/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/ariskiyana.wordpress.com/25/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/ariskiyana.wordpress.com/25/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/ariskiyana.wordpress.com/25/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/ariskiyana.wordpress.com/25/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/ariskiyana.wordpress.com/25/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/ariskiyana.wordpress.com/25/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/ariskiyana.wordpress.com/25/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/ariskiyana.wordpress.com/25/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/ariskiyana.wordpress.com/25/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/ariskiyana.wordpress.com/25/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/ariskiyana.wordpress.com/25/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=ariskiyana.wordpress.com&amp;blog=6128314&amp;post=25&amp;subd=ariskiyana&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ariskiyana.wordpress.com/2008/11/22/si-jahat-dan-si-baik-itu-bernama-kolesterol/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/4c39513a9e3e1407b8116b4a3749478e?s=96&#38;d=identicon" medium="image">
			<media:title type="html">ariskiyana</media:title>
		</media:content>
	</item>
	</channel>
</rss>
