“ Hujan …? Mati lampu? Ah sudah biasa, yang luar biasa itu justru kalau hujan lampu tidak mati…” apa yang mungkin bisa kita lakukan kalau lampu mati? Panik? Gelap, tak bisa bekerja/belajar, AC, kulkas, dispenser, komputer, pemasak nasi, pompa air semuanya ikut mati tak berfungsi ? Satu sistem vital tak berfungsi ternyata dapat mengakibatkan kelumpuhan sistem kerja yang lain.
Keluarga Berencana selama ini dipersepsikan secara sempit hanya sebagai upaya mencegah kehamilan, atau sekedar pemasangan alat kontrasepsi (alkon) saja; tapi sebenarnya juga merupakan salah satu pengendali laju pertambahan penduduk (LPP), upaya peningkatan kesejahteraan dan ketahanan keluarga, kesehatan reproduksi, kesehatan maternal, kesehatan anak bahkan sampai kepada kesehatan usia lanjut. Semua tujuan itu akan bermuara pada tujuan yang lebih besar: mewujudkan keluarga-keluarga Indonesia yang berstruktur kecil, berkualitas dan sejahtera.
Keluarga Berencana juga merupakan pengaman untuk program pembangunan yang lain. Bisakah kita membayangkan seandainya di negri tercinta ini Keluarga Berencana gagal? Laju pertambahan penduduk bisa tak terkendali, baby boom bakal kembali terjadi, dan akan menjadi beban berat pembangunan. Pengangguran, banyak anak tak sekolah, aborsi, tingginya angka kematian ibu melahirkan, anak-anak yang kurang gizi, serta kelangkaan kontrasepsi, adalah derita lain yang akan terlihat. Pendidikan dan pelayanan kesehatan akan sulit dipenuhi kebutuhannya, lapangan pekerjaan semakin menyempit, kemiskinan selalu mengancam, kriminalitas cenderung meningkat dan masih banyak lagi akibat berantai lainnya.
Laju Pertambahan Penduduk Indonesia berkisar antara 1,2 – 1,4 persen pertahun-artinya setiap tahun penduduk Indonesia bertambah 3 – 3.5 juta jiwa, dan ini hampir sama dengan jumlah penduduk Singapura. Angka Kesuburan Wanita (TFR – Total Fertility Rate) di Jawa Tengah mengalami kenaikan dari 2,1 di tahun 2003 menjadi 2,3 di tahun 2007 (nasional 2,6) artinya setiap perempuan usia subur di Jawa Tengah rata-rata memiliki 2,3 anak. Seharusnya TFR dapat ditekan menjadi 2 atau kurang, sebab dengan memiliki 1-2 anak pada setiap keluarga, maka akan terjadi pertumbuhan penduduk yang seimbang dan terkendali, sehingga dapat menghemat triliunan rupiah anggaran negara, untuk pendidikan, kesehatan, bahan pangan dan lapangan pekerjaan. Angka kematian ibu di Indonesia, masih menempati urutan yang tertinggi dibandingkan dengan negara-negara ASEAN lainnya. Dilihat dari angka Indeks Pembangunan Manusiapun (IPM), Indonesia juga masih sangat rendah yaitu menduduki rangking 110 dari 117 negara.
Indonesia pernah menjadi contoh masyarakat dunia khususnya negara berkembang, tentang keberhasilan program Keluarga Berencana, ternyata hal tersebut dapat memicu keberhasilan lain seperti swasembada beras, kecukupan sembako, mempermudah penyediaan layanan publik dll. Bagaimana perkembangan KB di daerah saat ini ? yuk…kita lihat hasil pengamatan di lapangan:
- Anggaran KB dari APBD II di alokasikan menurun dari tahun ke tahun, anggaran tersebut menjadi satu dengan alokasi untuk dinas dimana KB tergabung, sehingga dirasakan kurang dapat mendukung program KB .
- Jumlah PLKB menurun drastis, dan mengerjakan pekerjaan beragam, terkait dengan tupoksi dinas dimana KB tergabung sehingga tidak terkonsentrasi untuk program KB. Rasio seorang PLKB dibanding desa binaan 1 : 4, hal ini membuat beban kerja semakin berat sehingga pantauan terhadap sasaran KB kurang optimal. Pembuatan laporan dan pencatatan oleh tenaga medis (bidan) juga masih belum tepat waktu, oleh karena para bidan sudah sarat beban.
- Persoalan utama dalam penggerakan sasaran adalah rapuhnya penggerakan oleh PPKBD dan sub PPKBD, bila dapat diupayakan insentif disertai pembiayaan untuk kelompok kegiatan bina ketahanan keluarga dan UPPKS, maka diharapkan dapat mendorong PPKBD dan sub PPKBD dalam penggerakan sasaran untuk menekan DO dan unmetneed, mengaktifkan IMP,BKB,BKR,BKL dll.
- Koordinasi antar instansi dirasakan perlu ditingkatkan, sehingga diperlukan faktor pendorong yang kuat seperti instruksi gubernur, selain itu berbagai lomba yang ada (mis;TMKK,KB-Kes PKK) diharapkan dapat mendukung dengan memberikan bobot yang tinggi untuk kerja sama lintas sektor.
- Daerah memiliki perusahaan baik milik pemerintah maupun swasta, namun secara kualitatif belum dapat menyediakan pelayanan KB yang memadai, untuk itu perlu dipertimbangkan instruksi dari pejabat Disperindagprov agar tiap perusahaan dengan kualifikasi tertentu harus menyediakan sarana pelayanan kesehatan dan KB yang representatif.
- Kelompok Prio Utomo belum berkembang seperti yang diharapkan, perlu stimulasi modal, demikian juga untuk BLK, PIK, BKL, BKR, BKB, buku pedoman kegiatan perlu didistribusikan ke semua sasaran.
- Pelayanan KB perlu disertai pelayanan advokasi prapelayanan dan pengayoman.
Dana yang tersedia untuk program KB saat ini memang semakin menurun, kecukupan pemenuhan untuk pembiayaan kegiatan yang ideal dengan sendirinya akan berkurang, sehingga prioritas program harus dipertajam. Pada sisi yang lain, kebutuhan masyarakat akan layanan KB tidak berkurang bahkan meningkat, pertumbuhan ekonomi yang melambat akibat imbas resesi dunia, angka inflasi yang meninggi mengakibatkan gelombang ’tsunami’ penurunan kemampuan ekonomi keluarga, yang dapat melanda siapa saja. Ancaman PHK, kenaikan harga kebutuhan pokok, mendorong terjadinya peningkatan jumlah keluarga miskin atau hampir miskin.
Indonesia sebagai negara besar, sudah selayaknya memiliki rakyat yang tangguh, berbudaya gotong royong, pengelola negara yang terpercaya dan mumpuni, tidak boleh mudah dirusak hanya oleh segelintir orang. Bangsa Indonesia bukan bangsa yang penakut menghadapi masalah, persoalan yang ada dihadapi sebagai tantangan yang harus di tundukkan, bukankah Tuhan yang maha pengasih dan penyayang, tidak akan membebani umatnya dengan beban yang berat yang tidak dapat dipikul umatnya? Manusia sebenarnya tercipta bernurani malaikat, yang memiliki satu sayap… untuk dapat terbang….dia perlu malaikat lain.
29 January 2009 at 6:18 pm
dear, dr. risky
KB adalah program yang menurut saya sangat bagus dalam pengendalian penduduk, namun justru setelah kejatuhan presiden suharto dianggap semua yang milik orde baru jelek, akibatnya program KB tergusur secara perlahan – lahan , ada yang pegawainya dipindah ke bag. Capil, jadi staff kecamatan dll. hal ini berakibat jumlah personil jadi menurun, ditambah lagi ada daerah yang tidak mengakomidasi progarm KB , hanya sebagai bagian dari sesuatu program saja. saya membaca baliho di sekitar kalibanteng tentang himbauan presiden ” anak 2 lebih baik ” rakyat indonesia tidak akan mempan dengan himbauan. coba saksikan bagaimana sulitnya kita sekarang mencari akseptor kb. saya baru saja lakukan safari dengan keja sama sana sini hasilnya akseptor hanya 10 orang. Saya usulkan memang harus ada yang khusus mengurusi maslah KB ( kependudukan )seperti BKKBN dulu, pasti sukses.!! sekian terima kasih.
31 January 2009 at 1:20 pm
wow thanks dr Didik
It should be our concern to do better,so let we start with our own. Anyway, what’s your suggestion to make this blog would be able to inspirate our colleagues?
see u soon
3 February 2009 at 9:05 pm
mas dokter aris,
alinea pertama rasanya tidak nyambung dgn alinea2 selanjutnya. yg pasti kalau sering mati lampu (listrik PLN byar pet) cenderung mengacaukan program keluarga berencana, karena serba gelap sehingga para pasutri tidak punya kegiatan lain selain…
akibatnya di entong belon gede si otong udah nongol lagee…
5 February 2009 at 11:36 am
Mas Dok, bener kandane Kang Didiet prolognya gak nyambung. Btw, KB is a good program. Eling aku ora Mas Ka Osis alias Mas Paskibra? May I’ll meet You? Right now I’m in Pekalongan.
16 February 2009 at 8:44 am
Asslmkm wr wb pak Rizki. Maaf saya baru baca tulisan panjenengan. Bravo! cuma yang kebayang adalah pada saat panjenengan nulis, buanyak sekali hal-hal yang ada dalam pikiran yang saling berebut kluar. Jadi terkesan alur pikirnya ga sistimatis, seperti dikatakan pak Boedi atau pak Didiet. Btw, bagi saya itu menunjukkan luasnya pemikiran dan banyaknya hal-hal yang menjadi pemikiran dan keprihatinan pa Rizki.
Namun kondisi per-KB-an di Jawa Tengah tsb tentunya memacu kita untuk lebih bergiat untuk kebangkitan kembali KB khusushon di Jawa Tengah dan secara umum di Indonesia. Kembangkitan KB pun menurut hemat saya harus dilakukan melalui pembangunan jejaring yang kuat dan lentur dan istiqomah, diantara instansi/ormas terkait. “Regulasi” seperti Ingub sudah kita luncurkan melalui SK Tim Koordinasi Program KB dan KS, yang guna penyelenggaraannyapun sudah dibentuk Sekrt Tetap. Pramilo, ayo kita tindaklanjuti secara maksimal. Mari kita tinggalkan “ego sektoral”..kalau ada. Smoga aja ga ada ya. Jangan sampai kita kalah “greget” dengan PKK. Bu Bibit selaku Ketua TP-PKK Prov. Jateng pun telah mengeluarkan surat kepada TP-PKK di Kab/Kota. saya yakin gelone ati karena berkurangnya petugas PLKB atau PPKBD, dapat terobati dengan lebih mesra bergandengan tangan dengan ibu-ibu kader PKK. Saya angkat topi untuk bliau2, yang dalam benak saya para kader PKK seperti mobil tua yang sarat muatan namun tetap setia meski jalannya kadang terseok-seok. Saya pikir perlu kita usulkan untuk diberi penghargaan khusus untuk kader PKK yang berprestasi menggiatkan KB di desanya. Eh maaf, barangkali sudah ada? Btw kembali ke laptop terkait upaya kita agar kebangkitan KB ga jadi “slogan” semata (maaf), kami siap mensinergikan program/kegiatan yang ada. Mungkin dapat kita mulai dari rencana “kecil” yang ga muluk-muluk namun aplikatif. Kita buat peta kondisi per-KB-an se Jateng, kita beri advokasi, motivasi dan fasilitasi kepada kab yang dipandang “rawan” dan bila perlu kita dampingi pada saat proses perencanaan atau bila perlu hierring dengan legislatif setempat untuk menggalang dukungan. Jadi akan kelihatan greget Pemprov terkait Tim Koord KB. Soal anggaran, bila perlu yarwe2 ya..he he. Untuk kab/kota yang memang perlu perlakuan khusus, mis pekalongan, perlu kita ajak mitra KB seperti Fatayat NU atau Aisiyah untuk membantu memberikan padangan dari sisi agama berikut dalil-dalilnya. InsyaAllah kami siap mengundang Tim untuk memulai..ini sekedar lemparan pemikiran kecil aja pak.