Sabtu, 25 April 2009 | 03:26 WIB

Lewat tulisan rumah (yang) sakit (Kompas, 14/3/09) Radhar Panca Dahana mengeluh buruknya layanan medik kita. Tulisan itu mewakili nasib banyak pasien. Yang diungkapnya fakta keresahan tak sedikit pasien kita. Betul harus diakui banyak pasien kita terpojok sebagai pihak yang dirugikan. Handrawan Nadesul

Resep dokter ditulis tak rasional, lebih banyak pasien berobat kalau punya uang saja, komersialisasi layanan medik, layanan medik dirasakan tak manusiawi. Itulah potret layanan medik yang dibaca dengan kacamata bukan orang medik. Saya ingin mengulasnya dari kacamata pekerja medik. (more…)

puyerLAPORAN IPTEK
Rabu, 4 Maret 2009 | 05:39 WIB

Oleh IRWAN JULIANTO

Obat telah lama menjadi bahan perdebatan yang tak berkesudahan. Konsumen boleh saja adalah “raja” dalam menentukan pilihan untuk hampir semua jenis barang dan jasa yang akan dibelinya, kecuali untuk soal obat: ia harus memasrahkan pilihan dan nasibnya pada ujung pena dokter.

Sejarah telah menunjukkan, otoritas meresepkan obat yang diberikan kepada profesi kedokteran terbukti kerap disalahgunakan. Ini menimbulkan pengobatan yang irasional dan merugikan konsumen. Ivan Illich adalah salah satu kritikus terkemuka yang berani mengungkap fakta buruk dunia medis di negara maju maupun miskin yang justru mengubah “kesehatan” menjadi “kesakitan”.
(more…)

Team self-evaluation
From the very outset of the DTPS process, each district team should knows that it will be a second workshop in 10-12 months to report and discuss what it has been able to accomplish.
This will also enable the team to assess how its performance as a district team has been affected by the whole DTPS process and to judge and modify the solution approach it has designed.Each team thus has the responsibility for preparing in advance its own evaluation report. (more…)

Next Page »

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.